Liputan Khusus Terasi

Beginilah Proses Penangkapan Udang Rebon

Pengetahuan Kik Mardi, sapaan akrab Mardi dalam memburu udang rebon dibilang mahir. Bahkan ia juga seorang dukun laut.

id.pricepedia.org
Ilustrasi udang rebon 

POSBELITUNG.COM - KETIKA subuh telah berlalu atau masyarakat lokal menyebutnya 'terang tanah', Mardi (63), bersama rekannya Ashadi (56) pergi melaut, Senin (3/10).

Warga Kampung Mengguru, Desa Cendil, Kecamatan Kelapa Kampit, Kabupaten Belitung Timur (Beltim) berangkat pagi guna menangkap udang rebon .

Pengetahuan Kik Mardi, sapaan akrab Mardi dalam memburu udang rebon dibilang mahir. Bahkan ia juga seorang dukun laut.

Dalam menangkap udang rebon, kedua nelayan itu menyiapkan alat bernama ancau, yakni sejenis pukat khusus. Ancau seperti waring kelambu, sangat halus, sebab udang rebon juga berukuran kecil. Selain ancau, peralatan lain yang digunakan adalah perahu.

Cara mencari udang rebon ini, satu orang turun dari perahu lalu menarik ancau perlahan‑lahan. Setelah semua ancau terendam, satu orang lagi yang berada di atas perahu ikut turun lalu mengatupkan jaring tersebut.

Pos Belitung berkesempatan melihat secara langsung bagaimana Kik Mardi dan Kik Sadi (sapaan akrab Ashadi)  menangkap udang rebon. Keduanya menuju muara sungai yang terletak di Kampung Mengguru. Di hulu sungai inilah ancau dibentangkan lalu menariknya secara perlahan sedikit demi sedikit dari badan perahu.  

Mencari udang rebon tidak di laut dalam, paling dalam pun hanya sepinggang atau sedada orang dewasa. Saat mencari udang rebon, Kik Mardi tidak terpaku hanya di satu tempat. Area muara dan pesisir laut yang biasa menjadi incaran adalah Sabang Gadong, Pantai Sungai Keladi, dan Pantai Tanjung Batu Pulas.

Kik Mardi selalu mengintai keberadaan udang rebon yang selalu keluar dari muara sungai. Momentum yang selalu dicari‑cari adalah saat udang ini berimigrasi dari muara sungai ke laut.

"Seperti pohon kelapa (bentuk jejeran imigrasi), mereka berjajar panjang melintas ke arah laut," ujarnya.

Momentum panen besar menghasilkan berkarung‑karung udang rebon adalah kesempatan yang sangat jarang. Nelayan yang lihai, akan memotong bagian belakang parade udang sedikit demi sedikit hingga ke arah kepala.   

Jenis udang yang dicari para nelayan adalah udang rebon yang masih muda atau 'rebon bujang'. Pertumbuhan udang ini cepat sekali, dalam seminggu udang rebon sudah besar.

"Kepala udang rebon nok gik kecik biasenye merah. Mun nok gede, kepalae ijau," beber Kik Mardi.

Lanjutnya, udang rebon ini keliling Belitong. Jika di bulan Maret hingga pertengahan November, mereka berlindung di bagian timur, sebaliknya di musim barat. Dengan demikian, karena proses imigrasi ini, maka udang rebon selalu ada setiap tahunnya.

"Saat musim barat kami goyang kaki, karena hasil selama sembilan bulan sudah terkumpul," ujarnya.

Berbicara udang rebon tidak terlepas dari jenis. Menurut rekan Kik Mardi, yaitu Kik Sahadi, jenis udang rebon di Tanjung Batu Pulas berbeda dengan udang‑udang di tempat lain, seperti halnya Sungai Padang. Udang di Tanjung Batu Pulas berwarna kemerah‑merahan, sedangkan udang rebon di Sungai Padang agak keputih‑putihan.

"Mungkin karene pengaruh karang, jadi warnanye merah. Beda dengan udang rebon de wilayah berpasir, agak keputih‑putihan," ucapnya. (o4)

Sumber: Pos Belitung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved