Tahun 2016 Tahun Terpanas dalam Sejarah, Ini Suhu Rata-rata Bumi
Suhu atmosfer Bumi rata-rata dalam setahun naik 1,1 derajat celsius dibandingkan periode sebelum Revolusi Industri 1850-1899.
"Sebagai negara kepulauan, dampak yang kita alami perlahan, tetapi ada dampak bersifat segera," kata Alan, yang juga Koordinator Bidang Kajian Strategis Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB.
Kenaikan suhu laut juga diungkapkan periset iklim dan cuaca ekstrem Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Siswanto.
Pada November 2016, kenaikan rata-rata suhu perairan laut 0,76 derajat celsius dibandingkan 30 tahun sebelumnya.
"Di Indonesia, kenaikan suhu laut per tahun 0,01-0,02 derajat celsius," katanya.
Dampak segera kenaikan suhu itu ialah menguatnya energi badai tropis.
"Badai tropis tak melintas ekuator, tapi mengarah ke area dengan garis lintang lebih tinggi. Saat energi badai menguat, ekor badai berdampak serius bagi Indonesia," ujarnya.
Di perairan yang mengalami kenaikan suhu signifikan lebih mudah tumbuh bibit siklon, seperti Samudra Pasifik barat di utara Papua atau perairan selatan Merauke dan Samudra Hindia di barat Lampung.
Badai tropis Yvette terbentuk di Samudra Hindia pada 21 Desember 2016, memicu hujan ekstrem sehingga ada banjir besar di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat.
Curah hujan di Bima saat itu 208 milimeter per hari, tertinggi dalam sejarah.
Alan menambahkan, pada akhir Januari sampai awal Februari 2012, badai tropis Iggy yang terbentuk di Samudra Hindia memicu cuaca ekstrem berupa angin kencang di sebagian area Indonesia.
Wilayah terdampak yang meliputi Banten, Kepulauan Seribu, dan pesisir selatan Kalimantan menunjukkan kuatnya ekor badai itu.
"Menurut tren ini, kami perlu mencermati dan memprediksi dampak badai tropis bagi kepentingan mitigasi," ucapnya.
Hal yang perlu diwaspadai di Indonesia dari memanasnya suhu laut adalah kematian terumbu karang (reef bleaching).
Tahun 2016 menjadi kematian terumbu karang terburuk dalam sejarah Great Barrier Reef, Australia. Di Indonesia, hal itu terjadi di perairan selatan sampai Wakatobi.
Menurut analisis data pantauan satelit 20 tahun terakhir, ada penurunan klorofil A, bagian dari fitoplankton, di perairan luar Indonesia, misalnya Samudra Hindia dan Laut Sulawesi.
"Penurunan fitoplankton mengurangi zooplankton. Jika dikaitkan dengan rantai makanan, itu mengurangi stok ikan," katanya. (AIK)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/matahari_20160318_192856.jpg)