Kukus Menggale Ikan Pais Semakin Langka
Negeri Laskar Pelangi tak hanya kaya dengan keindahan alamnya, tapi juga memiliki beberapa menu sarapan tradisional yang unik.
POSBELITUNG.COM - Sarapan atau melampun menjadi hal yang wajib bagi sebagian orang sebelum memulai aktivitas. Pilihan menu sarapan pun tergantung selera.
Bagi yang tak ingin sarapan berat seperti nasi, bubur ayam atau makanan lain, beberapa makanan ringan seperti kue tradisional atau roti kerap menjadi pilihan untuk mengganjal perut saat pagi hari.
Negeri Laskar Pelangi tak hanya kaya dengan keindahan alamnya, tapi juga memiliki beberapa menu sarapan tradisional yang unik.
Mulai dari makanan khas seperti kukus hingga beragam kue tradisional yang cita rasanya mengikuti perkembangan zaman, hingga kue tradisional yang tetap terjaga keasliannya.
Beberapa menu sarapan khas, saat ini memang sudah cukup sulit untuk ditemui. Tapi jangan takut, karena masih saja ada pedagang yang melestarikan makanan itu dan tetap menjaga rasanya hingga terus bisa dirasakan dari generasi ke generasi.
Satu di antaranya adalah kukus. Kukus ini terbuat dari bahan dasar tepung rap menggale (singkong).
"Udah lama nggak makan kukus begini. Enak, ditambah lagi ikan paisnya. Tapi sudah jarang orang jualan begini kalau buat sarapan," sebut seorang lelaki saat ditemui Pos Belitung sedang membeli kukus di kawasan wisata Pantai Tanjungpendam, Minggu (2/4), untuk dinikmatinya usai olahraga pagi itu.
Salah seorang pembuat dan penjual kukus adalah Adhywira. Kukus buatan Adhywira ini berbentuk kerucut, yang dijual satu paket dengan lauknya yakni ikan pais (ikan pepes) yang dipresto.
Harganya murah meriah, hanya Rp 8.000 per porsi. Anda bisa menemukan setiap hari Minggu pagi di kawasan wisata Pantai Tanjungpendam, atau di samping SPBU Jalan Gatot Subroto Tanjungpandan setiap Selasa pagi hingga Sabtu pagi.
"Lawan e kan ikan pais. Biasenye urang juak makannye kan ikan asin. Cuma ada juga beberapa request kiape mun kite buatkan rendang? Pernah dicoba. Nyaman. Jadi waktu ada pameran di Tanjungpendam tahun lalu, ada ibu yang buka stan dekat kami. Saya pesan soto babat dan makan dengan kukus. Nyaman," tutur Adhywira, Selasa (4/4).
Semula untuk membuat bentuk kerucut pada kukus, Adhywira menggunakan teko yang tinggi. Namun kemudian diganti menggunakan wadah yang terbuat dari bambu. "Kami bawa ke Tanjungpendam. Ternyata banyak yang suka," lanjutnya.
Masih ada menu lain khas Belitung untuk sarapan yang disediakan Adhywira, yakni ipok‑ipok. Sama halnya dengan kukus, ipok-ipok ini juga terbuat dari tepung rap menggale. Makanan ini biasanya jadi teman ngopi saat sarapan, apalagi disajikan saat masih panas. Bagian dalam ipok-ipok diisi sambalingkong Belitung yang rasa asin dan pedasnya menonjol.
"Ipok‑ipok pakai tepung rap menggale. Prosesnya lama dan bahan baku. Dak banyak orang buat karena bahan bakunya susah. Tapi ini memang khas," kata Adhywira yang telah setahun ini berjualan makanan khas Belitung untuk sarapan.
Masih ada lagi loh kue tradisional Belitung yang bisa dijadikan menu sararapan, yakni keroket menggale. Yup, keroket mungkin bisa ditemui dimana saja. Tapi keroket menggale yang dijual Adhywira memiliki cita rasa tersendiri. Meski sudah mengalami modifikasi mulai dari isiannya hingga tampilannya, keroket menggale tetap enak dan digemari masyarakat.
Adhywira mengatakan khusus keroket menggale, dirinya memodifikasi keroket buatannya dengan mengubah isi keroket yang biasanya bihun, menjadi ayam atau daging sapi dan dilumuri tepung panir. Hal ini bertujuan untuk menyesuaikan rasa dan permintaan konsumen
"Waktu zaman kami kecil keroket ini sudah ada dan menjadi jajanan paling nyaman. Tapi ini kan persoalan cita rasanya. Ini yang kita buat jadi berbeda dan menyesuaikan, misalnya dari isinya kalau dulu bihun sekarang kita ganti dengan ayam dan daging. Kemudian dilumuri tepung panir," sebutnya.
Adhywira juga menyediakan bubor jawak untuk sarapan yang mungkin saat ini agak sulit ditemui. Bubor jawak ini bercita rasa manis.
"Jawak sudah jarang. Harga per kilonya hampir 20 kali harga beras. Ini karena memang karena kelangkaan. Tetap hukum ekonomi berlaku, supply and demand berlaku. Jadi karena kelangkaan, dan juga karena memang pekerjaannya memang sulit. Karena yang mereka buat yang siap pakai. Dan itu mereka tumbuk dan memang numbuknya tidak mudah," jelas Adhywira.
Khas Belitung
Melalui menu-menu yang disediakan tersebut (kukus, ipok-ipok, bubor jawak dan keroket menggale), Adhywira ingin mengangkat kuliner khas Belitung khususnya untuk melampun. "Benar‑benar idang melampun khas urang Belitong," ucapnya.
Mengusung tagline Menu Kampong, Rasa Kute, Adhywira berniat untuk mengembangkan makanan khas Belitung sebagai penopang pariwisata Belitung yang kian menggeliat. Dia mengatakan wisata Belitung sudah mulai ramai dan pasti wisatawan pun ingin mencari kuliner yang khas. Oleh sebab itu dirinya menawarkan menu-menu khas dan melestarikannya agar makanan ini tetap ada.
Tak hanya kukus, ipok-ipok, bubor jawak, dan keroket menggele, masih ada kue-kue tradisional juga bisa menjadi pilihan menu sarapan. Seperti kue apam, kue lumpang, putu, talam udang, talam menggale, talam beras dan ulen‑ulen. Salah satu pembuat kue tradisional, Zainar Jayadi megatakan dirinya mewarisi resep almarhum ibunda Hj Zubaidah (dikenal dengan sapaan Haji Zubai) membuat kue tradisional sejak 1958.
Zainar membuat berbagai olahan kue tradisional dengan bahan baku tepung beras. Ia berjualan kue tradisional sejak puluhan tahun silam di halaman rumahnya.
"Dulu apam itu khususnya pagi, dan kue apam itu identik dengan kue pagi. Cuma saya mencoba menggebrak jualan kue ini sampai malam, dan banyak peminatnya," katanya saat ditemui Pos Belitung, Kamis (6/4).
Ia mengatakan kebiasaan orang Belitung menyukai makanan manis dan gurih. Oleh karena itu makanan tradisional seperti kue‑kue yang dibuatnya itu masih terus diminati orang.
"Kue‑kue itu dibuat dari tepung beras, dan ini membuat kenyang. Tapi sekarang itu gak hanya sarapan saja tapi juga sampai malam saya jualnya masih banyak peminatnya," kata Zainar.
Tekstur kue buatan Zainar berbeda dengan kue umumnya, khususnya kue apamnya dengan bentuk yang berongga dan warnanya pekat membuat kue ini tradisional ini tak lekang oleh waktu. Nah, penasaran dengan berbagai cita rasa menu sarapan khas Belitung? Silahkan mencoba. (Krisyanidayati/Novita/Pos Belitung)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/kukus-menggale-pais-ikan-khas-belitung_20170409_140742.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/penjual-kukus-menggale_20170409_140822.jpg)