Tanpa Demonstrasi, Ternyata Masalah Umat Muslim Ini Bisa Ditanggapi Serius Oleh Presidennya

Kisah satu ini tercatat dalam sejarah perjalanan awal umat muslim pasca zaman para Sahabat Nabi Muhammad SAW.Banyak inspirasi yang bisa dapat dari kis

internet
Ilustrasi 

POSBELITUNG.COM - Kisah satu ini tercatat dalam sejarah perjalanan awal umat muslim pasca zaman para Sahabat Nabi Muhammad SAW.

Banyak inspirasi yang bisa dapat dari kisah ini. Mulai dari cara menjaga lisan, sampai melihat keutamaan seseorang.

Pada sisi lain, kisah ini mengajarkan pola hubungan yang baik antara masyarakat dan pemerintah, antara Raja dan Alim Ulama.

Kisah itu adalah Atha bin Abi Rabah, seorang Mufti yang digelari Alim Ulama di Mekkah dan hidup pada masa pertengahan abad ke-7 hingga awal abad ke-8 masehi.

Dalam biografinya, Atha bin Abi Rabah digambarkan pada awalnya adalah seorang budak.

Ia berkulit hitam, badannya kurus, kakinya pincang, mata kanannya rusak.

Satu kisah Atha bin Abi Rabah yang akan dipaparkan kali ini adalah saat masa Sulaiman bin Abdul-Malik, Khalifah Bani Umayyah.

Bila dikonversikan pada masa kini, posisi Khalifah yang dimaksud bisa juga diartikan sebagai seorang Presiden atau kepala negara.

Khalifah Sulaiman adalah seorang yang saleh dan mencintai para ulama.

Ia mengangkat Atha bin Abi Rabah sebagai seorang Mufti.

Pada satu ketika, Khalifah Sulaiman melaksanakan ibadah haji.

Ia datang dan membawa kemah besar beserta anak, dayang-dayang, dan pejabatnya.

Saat sedang wukuf, Khalifah Sulaiman bertanya di mana Atha bin Abi Rabah.

Kemudian dijawab, Atha bin Abi Rabah sedang berada di kemahnya, sedang melayani umat muslim yang sedang antri meminta nasehat.

Kemudian, Khalifah Sulaiman bilang mau ke kemahnya Atha bin Abi Rabah.

Secara struktural, hal ini sama seperti pimpinan datang ke tempat anak buahnya.

Sebab, Sulaiman adalah orang yang mengangkat dan menggaji Atha bin Abi Rabah sebagai seorang mufti.

Kemudian tibalah, Khalifah Sulaiman di tendanya Atha bin Abi Rabah.

Ketika datang, ia disambut oleh Atha bin Abi Rabah dengan pelukan dan keduanya berbalas perkataan santun layaknya adab umat muslim.

Atha bin Abi Rabah pun bertanya kepada Khalifah Sulaiman.

"Wahai Amir Mukminin, kenapa anda datang ke sini?" tanya Atha bin Abi Rabah.

Khalifah menjawab dirinya punya hajat, ada sebuah pertanyaan yang ingin disampaikan.

Lalu Atha bin Abi Rabah kembali bertanya, apakah hajat yang dimaksud oleh Khalifah itu untuk pribadi atau untuk umat Islam.

Lalu Khalifah secara jelas menyebut kedatangnya untuk hajat pribadi.

Kemudian  Atha bin Abi Rabah mengatakan hal yang mengejutkan.

"Kalau begitu Amir Mukminin mohon maaf, anda keluar, antri bersama muslimin karena ada yang sudah antri sebelum anda punya hajat pribadi. Kalau itu hajat umat islam, saya akan dahulukan anda," kata Atha bin Abi Rabah.

Jelas saja, orang di sekitar Khalifah Sulaiman ini marah, tapi Sulaiman sendiri malah diam dan keluar untuk mengantre.

Dalam riwayatnya disebutkan, kalau bukan Sulaiman diam, para pengikutnya mungkin sudah mengamuk.

Kemudian meski dalam suasana sempat tegang, Atha bin Abi Rabah tetap tenang melayani para umat muslim yang sudah antre. Begitu pun saat tiba melayani sang Khalifah, Atha bin Abi Rabah tetap saja tenang seperti biasa.

Sekembalinya ke kemah, Khalifah Sulaiman sadar bahwa peristiwa yang telah terjadi akan menimbulkan masalah.

Khalifah kemudian mengumpulkan semua orang-orangnya dan berkata.

"Apa yang kalian lihat, bukanlah sesuatu yang mempermalukan, dan demi Allah, Allah memuliakan Atha bin Abi Rabah dari saya karena ilmunya, dan di dalam Islam, memang seorang alim di atas seorang amir, dan memang saya memang punya hajat pribadi, maka jangan pernah ada yang merasa marah dengan Atha bin Abi Rabah, karena saya sendiri tidak marah dengan dia, dan wahai anak-anak ku dan para ajudan ku, belajar lah agama karena ilmu agama akan mengalahkan singasana-singasana para khalifah," 

Demikian satu penggal kisah Atha bin Abi Rabah yang disampaikan dalam ceramah  Ustadz Khalid Basalamah.

Video ceramah itu diposting ke youtube 6 Mei 2017.

Ustadz Khalid Basalamah mengatakan, bagaimana sikap Khalifah begitu dan Atha bin Abi Rabah begitu, dan semua dengan lapang dada bisa menjaga situasi.

"Karena mereka yakin ada raja yang sebenarnya, Allah Aswaja," kata Ustadz Khalid Basalamah.

Aspirasi Masyarakat

Pada kisah yang lain, berlangsung pada masa Khalifah Hisyam bin Abdul-Malik, adik dari Sulaiman bin Abdul-Malik.

Hisyam juga meneruskan kebijakan kakaknya yakni dengan tetap menjadikan Atha bin Abi Rabah sebagai mufti di Mekkah.

Kemudian pada satu ketika, Atha bin Abi Rabah melakukan perjalanan menuju istana khalifah di Damaskus, ibukota Suriah sekarang.

Perjalanan dari Mekkah ke Damaskus dilkukan oleh Atha bin Abi Rabah dengan menunggangi keledai selama hampir satu bulan.

Hingga jelang sampai ke istana, Atha bin Abi Rabah bertemu dengan Atha’ al-Khurasani, seorang ulama dari Persia.

Kala itu, Atha’ al-Khurasani adalah seorang ulama dengan latar belakang dari anak pejabat. Sedangkan Atha bin Abi Rabah seperti yang diulas sebelumnya berlatar sebagai seorang budak.

Maka tampaklah perbedaan di antara keduanya. Atha’ al-Khurasani datang dengan kereta kencana, sementara Atha bin Abi Rabah menunggangi keledai yang pijakan kakinya terbuat dari kayu biasa.

Namun, Atha’ al-Khurasani yang melihat dan mengenali Atha bin Abi Rabah kemudian turun dari keretanya dan menghampiri Atha bin Abi Rabah.

Anak Atha’ al-Khurasani yang ikut dalam perjalanan tersebut kaget. Dalam kisah yang diriwayatkannya, anak Atha’ al-Khurasani mengatakan dirinya tidak pernah melihat ayahnya turun mendatangi orang, biasanya ayahnya yang didatangi.

Lebih kaget lagi karena orang yang didatangi oleh ayahnya itu adalah seorang yang mengenakan pekaian tua, dan keledai berpelana kayu biasa.

"Saya tidak pernah orang semiskin itu, lalu ayah saya datang, memeluk, salaman, seperti sahabat lamanya, lalu mereka berbincang, tapi saya tidak tahu apa yang mereka perbincangkan," kata anak Atha’ al-Khurasani dalam kisah yang diriwayatkannya.

Kemudian ayahnya kembali ke kereta kencana dan berkata, ayahnya akan masuk ke istana bersama Atha bin Abi Rabah untuk bertemu Amir Mukminin.

Lalu anaknya bertanya.

"Ayah, siapa orang ini? saya belum pernah lihat orang semiskin ini," kata si anak.

"Hati-hati dengan lisan mu, ini adalah Atha bin Abi Rabah," kata Atha’ al-Khurasani pada anaknya.

Si anak kaget, dan bertanya sekali lagi apakah yang dimaksud adalah Atha bin Abi Rabah si Alim Ulama.

"Iya, makanya hati-hati, jangan omong sembarang, walaupun bukan Atha bin Abi Rabah kamu tidak pantas mengucapkan kalimat itu," tegas Atha’ al-Khurasani pada anaknya.

Kemudian Atha’ al-Khurasani berjalan masuk ke istana bersama Atha bin Abi Rabah.

Kemudian saat ayahnya telah selesai dan keluar istana, sang anak bertanya apa yang terjadi di dalam istana.

"Demi Allah, kalau bukan Atha bin Abi Rabah, saya tidak diizinkan masuk, " kata  Atha’ al-Khurasani.

Ayahnya kemudian melanjutkan cerita.

"Begitu kami masuk dari pintu gerbang istana, Hisyam bin Abdul-Malik berdiri dari singasananya kemudian mendekati Atha bin Abi Rabah," tuturnya.

Para pejabat dan orang dalam istana tidak mengetahui bahwa orang yang disambut sang raja adalah Atha bin Abi Rabah.

Perlu diketahui, Atha bin Abi Rabah memiliki anak bernama Muhammad sehingga kemudian Hisyam bin Abdul-Malik memanggilnya dengan sapaan ayah Muhammad.

Sesaat setelah merangkul Atha bin Abi Rabah, Khalifah Hisyam bin Abdul-Malik mengatakan. " Ke sini hai ayah Muhammad,"

Dalam ruang singasana tersebut terdapat sejumlah kursi.

Setiap kali Atha bin Abi Rabah ingin menghampiri sebuah, sang Khalifah selalu merangkul tangannya sambil mengatakan "Ke sini hai ayah Muhammad,"

Begitu sudah cukup berjalan, keduanya hampir tiba di singasana sang Khalifah.

Baru kemudian, sang Khalifah mempersilahkan Atha’ al-Khurasani duduk.

Sedangkan Atha bin Abi Rabah tanpa diduga, diminat duduk di sebuah kursi di samping singasana sang Khalifah.

Atha’ al-Khurasani mengatakan, dalam sebuah kisah yang diriwatkan oleh anaknya.

"Demi Allah, Atha bin Abi Rabah didudukkan di sebelah singasana Khalifah, dan belum pernah kursi di sebelah singasana Khalifah diduduki oleh orang lain termasuk anaknya sendiri," 

Kemudian, Khalifah bertanya, " Ya ayah Muhammad, ada hajat apa?"

Kemudian Atha bin Abi Rabah menyampaikan hajatnya.

"Penduduk Mekkah dan Madinah wahai Amir Mukminin, tetangganya Allah dan tetangganya Rosullullah SAW terlambat athaya mereka, maka saya mengingatkan anda kepada Allah agar memberikan kepada mereka" kata Atha bin Abi Rabah.

Perlu diketahui, athaya adalah sebuah istilah untuk pemberian dari kekhalifahan untuk masyarakat. Singkatnya, pendapatan negara dikeluarkan untuk kebutuhan negara, dan sisanya dibagi ke masyarakat, baik kaya maupun miskin.

Khalifah Hisyam menyambut baik peringatan itu dan langsung memerintahkan sekretarisnya untuk melaksanakan apa yang dimaksud oleh Atha langsung saat itu juga.

"Ada lagi wahai ayah Muhammad," tanya Khalifah.

"Ada," kata Atha." Para mujahidin, yang menjaga perbatasan kaum muslimin, terlambat gaji mereka, ada anak dan istri mereka yang mengeluh kepada saya, maka berikan hak mereka," kata Atha bin Abi Rabah.

Aspirasi masyarakat yang disampaikan oleh Atha bin Abi Rabah itu kemudian langsung ditanggapi baik.

Khalifah memerintahkan pejabat terkait untuk memberikan hak-hak yang dimaksud.

Setelah itu berlanjut terus hingga 5-6 hajat disampaikan Atha bin Abi Rabah, yang semuanya adalah hajat kaum muslimin.

Dan hajat yang terakhir adalah yang paling bikin geger istana.

Atha’ al-Khurasani menjadi saksi dalam peristiwa tersebut menuturkan.

"Demi Allah, Atha bin Abi Rabah berdiri tegak di depan Amir Mukminin (Khalifah Hisyam, red) lalu mengatakan kalimat yang membuat istana itu kalau mau goncang, bisa goncang, dia mengatakan wahai Amir Mukminin ada hajat yang lebih penting dari semua yang saya sampaikan tadi,"

Khalifah kaget dan bertanya. Semua orang yang ada pada momen tersebut juga ikut kaget.

"Apa itu hai ayah Muhammad?" tanya Khalifah.

Atha bin Abi Rabah mengatakan.

"Demi Allah hai Amir Mukminin, kau dilahirkan di muka bumi ini sendirian dan kau juga akan mati sendirian, dan kau juga akan di hisab oleh Allah sendirian, demi Allah semua yang kau lihat di sekitar mu ini tidak bermanfaat buat kamu, maka bertaqwalah dengan Allah," 

Tanpa diduga, Khalifah Hisyam menangis sambil memukul tongkatnya sambil mengatakan.

"Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan," kata Khalifah Hisyam.

Setelah itu dikisahkan oleh Atha’ al-Khurasani, dirinya dan Atha bin Abi Rabah keluar.

Menurut Atha’ al-Khurasani, hingga keluar ruangan, Atha bin Abi Rabah tak minum segelas air pun.

Tak sampai itu saja, sewaku tiba di pintu gerbang, seorang sekretaris khalifah mengejar Atha bin Abi Rabah untuk memberikannya sekantong uang emas. Tapi Atha bin Abi Rabah menolaknya dan mengatakan.

"Demi Allah saya datang bukan untuk ini," katanya sambil berlalu.

Atha’ al-Khurasani memastikan kedatangan Atha bin Abi Rabah hanya dalam rangka menasehati Khalifah dan menyampaikan aspirasi umat muslim.

Dan Atha’ al-Khurasani mengatakan, kalau pun Atha bin Abi Rabah menyampaikan semua hajat pribadinya, maka akan dipenuhi oleh Amir Mukminin.

Namun seorang Atha bin Abi Rabah hanya melakukannya demi menasehati Khalifah dan menyampaikan aspirasi umat muslim.

Lewat kisah ini kita juga melihat, bagaimana keluh kesah dan masalah umat muslim di Mekkah bisa ditindaklanjuti oleh 'Presidennya' tanpa perlui mereka melakukan aksi demonstrasi apalagi mendatangi ibukota.

Hal ini terjadi setelah mereka menyampaikan aspirasinya pada Alim Ulama dan kemudian Alim Ulamanya menyampaikan keluh kesah itu secara baik-baik kepada pimpinannya di Ibukota.

Semoga kisah menginspirasi dan menjadi penyemangat umat Islam untuk terus memperdalam ilmu agama, terlebih saat sekarang menjelang bulan Ramadhan.

Sumber: Pos Belitung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved