Keindahan Mercusuar Peninggalan Belanda di Mendanau Belum Tersentuh, Tawarkan Paket Wisata
Pihaknya telah mengemas sebuah paket wisata dari jalur laut untuk menuju lokasi tersebut. Cukup biaya...
SELAT NASIK, POS BELITUNG - Pulau Mendanau ternyata menyimpan sebuah bangunan heritage peninggalan sejarah zaman penjajahan Belanda.
Sebuah mercusuar putih bertuliskan ZM Willem III tahun 1883 tegak berdiri di wilayah Desa Suak Gual, Kecamatan Selat Nasik.
Secara fisik bentuk dari mercusuar sembilan lantai itu mirip dengan mercusuar yang berada di Pulau Lengkuas dan Pulau Sumedang.
Namun tahun pembuatannya sedikit lebih muda dan lebih rendah dibandingkan dua mercusuar tersebut.
Panorama hamparan air laut yang biru di jalur ALKI I dan Pulau Piling menjadi daya tarik pemandangan dari mercusuar yang berada di tepi laut itu.
"Memang kalau mercusuar Tanjung Lancur ini belum begitu terekspos, makanya tidak begitu banyak yang tahu," ujar Ketua Pokdarwis Pagal Piling, Desa Suak Gual, Suherman kepada Pos Belitung, Selasa (27/12).
Kondisi jalan setapak berkelok dan berbatu menjadi kendala bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke sana.
Namun kondisi itu menjadi daya tarik dan tantangan.
Pokdarwis Pagal Piling saat ini berupaya menarik minat wisatawan ke mercusuar Tanjung Lancur.
Pihaknya telah mengemas sebuah paket wisata dari jalur laut untuk menuju lokasi tersebut.
Cukup biaya Rp 350 per paket per hari, minimal delapan orang sudah bisa berkunjung ke mercusuar.
"Paket itu sudah termasuk mulai biaya kapal meeting poin di Pegantungan, transportasi, makan siang, welcome drink dan coffe break. Waktunya dari pukul 07.00 sampai 16.30 WIB," jelas Suherman.
Ia mengakui sejak musim buah durian tiba, Pulau Mendanau mulai dilirik dari masyarakat.
Meskipun bersifat lokal, namun permintaan kunjungan ke beberapa destinasi mulai bermunculan.
"Alhamdulillah sekarang cukup ramai, hampir tiap hari orang karena musim durian. Jadi sekalian mereka juga berkunjung ke lokasi wisata di sini," katanya.