Tragedi Wanita Penghibur Jadi Budak Seks Hingga Disiksa Sampai Mati

Dikenal sebagai 'wanita penghibur', kisah mereka adalah tragedi perang yang terus menimbulkan perdebatan.

SCMP
BERKABUNG 

POSBELITUNG.CO - Selama Perang Dunia II, Jepang mendirikan rumah bordil militer di negara-negara yang mereka tempati.

Para wanita di 'Stasiun Kenyamanan' ini dipaksa melakukan perbudakan seksual dan bergerak di sekitar wilayah itu ketika agresi Jepang meningkat.

Dikenal sebagai 'wanita penghibur', kisah mereka adalah tragedi perang yang terus menimbulkan perdebatan.

Menurut laporan, militer Jepang mulai dengan pelacur sukarela di bagian-bagian Cina yang diduduki sekitar tahun 1931.

Foto-foto korban kekjaman Jepang.
google
Foto-foto korban kekjaman Jepang.

Stasiun Kenyamanan didirikan di dekat kamp militer sebagai cara untuk menjaga pasukan tetap sibuk.

Ketika militer memperluas wilayahnya, mereka memperbudak perempuan dari wilayah yang diduduki.

Banyak wanita berasal dari negara-negara seperti Korea, Cina, dan Filipina.

Beberapa kabar melaporkan bahwa mereka pada mulanya dijanjikan pekerjaan seperti memasak, mencuci pakaian, dan merawat Angkatan Darat Kekaisaran Jepang.

Sebaliknya, rupanya mereka berakhir di layanan seksual.

Para wanita itu ditahan di samping barak militer, kadang-kadang di kamp-kamp berdinding.

Tentara berulang kali memperkosa, memukul, dan menyiksa budak seks.

Ketika militer bergerak di seluruh wilayah selama perang, para wanita dibawa, kadang pindah sangat jauh dari tanah kelahiran mereka.

Laporan lebih lanjut mengatakan bahwa ketika upaya perang Jepang mulai gagal, 'wanita penghibur' ditinggalkan tanpa dipedulikan.

Klaim berapa banyak budak seksual dan berapa banyak yang direkrut sebagai pelacur masih diperdebatkan sampai saat ini.

Perkiraan jumlah 'wanita penghibur' berkisar dari 80.000 hingga 200.000 orang.

Sumber: Intisari
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved