Ibu 2 Anak Ini Pilih Bekerja Sebagai Pembersih TKP dan Mayat, Ini Alasannya

Ibu dua anak berusia 34 tahun itu pergi bekerja di tempat yang sangat tidak biasa, yaitu tempat kejadian perkara (TKP)

Tayang:
VIA Intisari online
Brea menjadi pembersih forensik secara tidak sengaja. 

“Anda tidak pernah tahu seberapa besar atau kecil sebuah pekerjaan yang akan dihadapi, tidak juga emosi penderitaan orang-orang yang terlibat,” kata Brea lagi.

Mengatasi situasi sulit yang luar biasa yang sering kali melibatkan kematian tentunya menimbulkan momen-momen stres yang hebat dan kecemasan tingkat tinggi.

Hal itu juga membuat Brea berurusan dengan teman, anggota keluarga, tetangga, dan pihak ketiga seperti pemilik tanah.

//
Apa yang dilihatnya dalam pekerajaan membuat Brea selalu memeluk erat anak-anaknya.
 
Apa yang dilihatnya dalam pekerajaan membuat Brea selalu memeluk erat anak-anaknya.

Menurut Brea, pekerjaannya bisa merupakan sebuah pembersihan sederhana seperti sebotol darah.

Atau, kematian tidak diketahui yang sudah membusuk selama lebih dari seminggu dalam cuaca lembab.

Wanita itu teringat ketika mendatangi apartemen studio seorang manula yang telah meninggal di pertengahan musim panas.

Ketika mayat ditemukan, sudah lebih dari empat minggu sepanjang musim terpanas yang tercatat.

Para tetangga mengeluh bau busuk dan seseorang mendobrak pintunya.

“Aku belum pernah selama hidupku mencium bau seperti itu, banyak orang tidak menyadari apa yang terjadi dengan tubuh anda ketika anda mati,” kata Brea.

Brea dan timnya harus membersihkan tempat tersebut, sebuah proses mengerikan yang memakan waktu dua minggu.

Akibatnya, pekerjaan itu mempengaruhi emosi staf Brea.

Hal itu mendorongnya untuk menerapkan protokol keras bagaimana mengatasi suatu tugas dalam sebuah tatacara sensitif bagi semua orang yang terlibat.

Itu sebabnya, Brea menyeimbangkan kariernya yang serius dan seringkali penuh stres secara psikologi, dengan menjadi seorang ibu yang ‘banyak akal’.

Wanita itu menambahkan, pekerjaannya itu bukan tipe pekerjaan dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore, karena ia bisa mendapat panggilan kapanpun.

“Aku sedang mengantar anak-anak ke sekolah dan mereka berteriak-teriak di kursi belakang saat aku mendapat panggilan dari seorang anggota keluarga yang kebingungan tentang sebuah tindakan bunuh diri,” cerita Brea.

Sumber: Intisari
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved