Setahun Hengkang, Pendiri WhatsApp Blak-blakan soal Perselisihan dengan Bos Facebook

Meski Acton telah lama meninggalkan WhatsApp, namun dirinya tidak pernah mengutarakan alasannya ke publik

(Jim Goetz/ Sequoia Capital)
Duet pendiri WhatsApp Jan Koum (kiri) dan Brian Acton 

POSBELITUNG.CO - Sebelum dua pendiri Instagram, Kevin Systrom dan Mike Krieger mengundurkan diri dari perusahaan Facebook Inc yang menaungi mereka, dua pendiri WhatsApp lebih dulu melakukan hal yang sama tahun lalu.

Diawali dengan Brian Acton yang hengkang setahun lalu dan disusul Jan Koum yang mundur bulan Mei 2018 di tengah skandal penyalahgunaan data pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica.

Meski Acton telah lama meninggalkan WhatsApp, namun dirinya tidak pernah mengutarakan alasannya ke publik. Kepergian Acton kala itu tak lama setelah WhatsApp mulai memonetisasi layanan WhatsApp di akun-akun bisnis.

Hal ini menimbulkan dugaan bahwa alasan tersebut mengantarkan Acton untuk keluar dari WhatsApp. Untuk pertama kalinya, setelah tepat satu tahun ia meninggalkan WhatsApp, Acton muncul menyuarakan alasan sebenarnya, mengapa ia memutuskan untuk mundur.

Dalam wawancara khusus dengan Forbes, sebagaimana KompasTekno rangkum pada Minggu (30/9/2018), alasan terkuatnya untuk mundur adalah karena frustrasi melihat model bisnis yang dilakukan Facebook.

Lebih tepatnya, tekanan dari CEO Facebook, Mark Zuckerberg dan COO Facebook, Sheryl Sandberg-lah yang membuatnya yakin melepas WhatsApp yang diakuisisi Facebook sejak tahun 2014, dengan total nilai akuisisi 22 miliar dollar AS.

"Saya telah menjual data pribadi pengguna untuk keuntungan yang lebih besar. Saya telah membuat keputusan dan perjanjian. Dan saya hidup dengan itu setiap harinya," aku Acton.

Tekanan untuk Memonetisasi WhatsApp

Acton resmi keluar dari WhatsApp bulan September tahun 2017. Saat skandal Cambridge Analytica, yang menyederai privasi pengguna Facebook mencuat, Acton mendukung gerakan #DeleteFacebook melaui akun Twitternya, yang notabene menjadi platform pesaing Facebook.

Ia pun membeberkan pertemuannya dengan Zuckerberg dan Sandberg suatu hari. Dua petinggi Facebook itu diceritakan Acton menuntut dirinya untuk melakukan monetisasi WhatsApp dengan menghadirkan iklan ke pengguna dan menyediakan fitur bisnis di aplikasi layanan pesan instan tersebut.

Acton mengisahkan jika Facebook juga mempersoalkan enkripsi yang melindungi isi pesan para pengguna WhatsApp. Facebook disebut menunjukkan gelagat tidak wajar, sejak pertama kali akuisisi. Niat Facebook untuk menargetkan iklan dikatakan sudah terendus sedari awal.

Dikatakan Acton, dalam merayu para pengiklan, Facebook mengklaim sangat mengenali para penggunanya, sehingga iklan akan sampai tepat sasaran. Hal itulah yang bertentangan dengan prinsip yang diagungkan Acton dan Koum.

Dua orang ini dikenal sangat fanatik untuk melindungi kerahasiaan privasi pengguna. Penolakan Acton dan Koum dalam memonetisasi WhatsApp sempat membuat Zuckerberg geram. Zuckerberg pun membuat dua pilihan monetisasi WhatsApp.

Pertama, dengan menargetkan iklan melalui fitur WhatsApp Status dan kedua, membuat alat bisnis di mana pelaku bisnis bisa mengobrol dengan para pengguna. Untuk pilihan kedua, Facebook pun berniat untuk menjual alat tersebut jika sukses meluncur.

"Menargetkan iklan adalah hal yang tidak saya sukai," aku Acton.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved