Breaking News:

Natalius Pigai Ungkap Awal Mula Berdirinya OPM di Papua, Mirip Sejarah GAM di Aceh

Mirip Sejarah GAM di Aceh, Natalius Pigai Ungkap Awal Mula Berdirinya OPM di Papua

Editor: Asmadi Pandapotan Siregar
Facebook TPNPB
Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) melalui akun Facebook Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) memberikan pernyataan atas pembantaian puluhan pekerja PT Istaka Karya. 

POSBELITUNG.CO -- Mantan anggota Komnas HAM Natalius Pigai memberikan penjelasan soal awal mula gerakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang menembak 31 orang di Papua.

Hal itu diungkapkan Natalius Pigai saat menjadi narasumber di acara si sebuah stasiun televisi swasta pada Sabtu (8/12/2018).

Selain Natalius Pigai, hadir pula Ali Ngabalin selaku Tenaga Ahli Staf Kepresidenan.

Natalius Pigai menjelaskan awal mula KKB ini berdiri, adalah ketika dimulainya integrasi politik ke dalam Republik Indonesia dengan cara penentuan pendapat rakyat (Pepera) tahun 1969.

“Dalam proses penentuan pendapat rakyat itu, banyak yang  tidak menerima. Hanya sebagian tokoh yang menerima, yaitu tokoh-tokoh terdidik pada saat itu sudah dipegang oleh Pemerintah Indonesia," kata Pigai.

Baca: Ketika Hotman Paris Kritik Pemerintah: Kalau Ngga Sanggup, Jangan Sok-sok Bangun Jalan Tol

Baca: Niat ingin Tenangkan Nafsu Birahi Suaminya, Sang Istri Malah Berurusan sama Polisi, ini Penyebabnya

"Mereka yang menolak proses itu kemudian menjadi bagian dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) karena mereka ingin membentuk sebuah negara-bangsa sendiri di Papua," sambungnya.

Sejarah lahirnya OPM ini, mirip dengan sejarah kelahiran Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 4 Desember 1976,  yang juga dibentuk karena ingin mendirikan negara sendiri yang berlandaskan syariat Islam.

"Karena indikator  negara-bangsa itu ditunjukkan dengan adanya bendera, lagu kebangsaan, lambang, wilayah, dan penduduk, maka pihak yang menolak berintergrasi ini berjuang dengan senjata, yang disebut Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat, yang sekarang disebut KKB," kata Natalius Pigai.

Ia menambahkan, hingga kini kelompok tersebut masih eksis, malah dan menjadi semakin kuat.

"Sejak dibentuk tahun 1961 sampai sekarang, mereka masih eksis dan tidak pernah pecah. Suaranya tunggal, berarti organisasi itu sudah kuat sebagai salah satu organisasi yang memperjuangkan negara-bangsa seperti di tempat-tempat yang lain," tambahnya.

Baca: Kisah Tragis Super Model Cantik Gia Carangi yang Berakhir Pilu; Jadi Gelandangan dan Meninggal Muda

Baca: Cerita Simon, Selamat dari Pembantaian KKB di Papua, 3 Hari Kabur Lewat Hutan

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved