Awal Penanam Ubi Casesa Mengecewakan, Bupati Bangka Ungkap Sempat Rugi 20 Hektar

Diakui Mulkan para petani di Kabupaten Bangka sempat kecewa menanam ubi casesa karena harganya murah sehingga tidak balik modal.

Tayang:
bangkapos/nurhayati
Bupati Bangka Mulkan saat panen bersama ubi casesa, Jumat (8/2/2019) di lahan kebun milik kelompok tani di Desa Saing Kecamatan Puding, Kabupaten Bangka. 

POSBELITUNG.CO -- Bupati Bangka Mulkan melakukan panen bersama ubi casesa, Jumat (8/2/2019) di lahan kebun milik kelompok tani di Desa Saing Kecamatan Puding, Kabupaten Bangka.

Pada tahun 2019 Pemkab Bangka menganggarkan seluas 200 hektar untuk Kredit Singkong Rakyat (KSR).

Dia bersyukur di Kabupaten Bangka sudah ada perusahaan tapioka terbesar dan modern yakni PT Sinar Baturusa Prima yang berdiri di Desa Puding Kecamatan Puding Besar yang merupakan milik putra daerah.

Diakui Mulkan para petani di Kabupaten Bangka sempat kecewa menanam ubi casesa karena harganya murah sehingga tidak balik modal. Ia sendiri mengalami hal yang sama karena pernah penanam ubi casesa.

"Memang awal-awalnya ubi casesa ini sangat menyedihkan karena pak bupati juga pernah kemarin pada awal boomingnya atau pembukaan pabrik yang ada di Kenanga. Pak bupati juga pernah membuka sekitar 20 hektar alhamdulillah ruginya pun cukup banyak," ucap Mulkan.

Diakuinya saat itu pabrik belum siap tetapi Pemkab Bangka sudah menginformasikan kepada masyarakat untuk menanam ubi casesa.

"Kita pikir pabrik ini setahun selesai rupanya tidak selesai juga. Petani-petani kita menanam ubi casesa ini dulu sempat kecewa ketika panen raya harganya Rp 500 karena belum kesiapan pabrik kita," jelas Mulkan.

Namun sekarang di Kabupaten Bangka saat ini pabrik tapioka ada tiga yakni PT Bangka Abadi Mandiri di Desa Cit Kecamatan Riausilip, PT Bangka Asindo Agri di Kelurahan Kenanga Kecamatan Sungailiat dan PT Sinar Baturusa Prima di Desa Puding Kecamatan Puding Besar.

"Pertama kali yang ada di Kampung Cit kemarin mungkin terlalu normal sehingga perjalanannya masih Senin-Kamis pada saat itu. Senin jalan baru Kamis lagi jalan karena belum normal. Kedua PT BAA tetapi dengan kapasitas kecil pada saat itu sehingga sama tidak bisa menampung hasil ubi casesa petani karena se Bangka ini. Alhamdulillah berkat dukungan putra daerah kita Pak Irwan beliau membuka pabrik ubi di Puding dengan kapasitas yang cukup besar. Bahkan satu hari bisa mengiling 500 ton dalam satu hari," ungkap Mulkan.

Dia meminta agar saat panen raya ubi casesa harga tidak anjlok karena ini jadi pengawasan Pemkab Bangka. Ia berpesan agar para pemilik pabrik tapioka di Kabupaten Bangka jangan kecewakan para petani.

"Petani Bangka kalau sudah dikecewakan untuk bangkit kembali yang sangat susah. Kemarin juga kalau harga tidak bisa Rp 1.400 semua pabrik ubi yang ada di Kabupaten Bangka ini tutup semua," imbau Mulkan.

Untuk itulah, pemerintah daerah sangat mendukung petani menanam ubi casesa karena jangka pendek dengan masa tanam tidak lama tujuh hingga 12 bulan. Sedangkan untuk sawit cukup lama karena lima tahun baru bisa panen.

Pada kesempatan ini, ia juga berterima kasih kepada Bank Sumsel Babel yang telah mendukung para petani menanam ubi casesa lewat Kredit Singkong Rakyat (KSR) dengan pinjaman Rp 16 juta perhektar.

"Mudah-mudahan tepat sasaran, berdaya guna dan berhasil guna. Jangan sampai nanti Bank Sumsel Babel kucurkan anggaran tidak ada feed back-nya," pesan Mulkan.

Dia menyarankan, Bank Sumsel Babel selektif dan bekerjasama juga dengan pihak perusahaan bahwa mereka benar-bebar petani di bawah binaan PT Sinar Baturusa Prima.

Ia bersyukur dari 284 petani yang menerima KSR ini sudah ada yang melunasi pinjamannya kepada pihak Bank Sumsel Babel. Dengan hasil panen satu hektar sekitar 40 ton dengan pinjaman KSR sebesar Rp 16 juta petani masih mendapatkan keuntungan. (BANGKAPOS/NURHAYATI)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved