Kisah Hacker Insaf yang Nekat Membuat KTP Palsu hingga Buat Perusahaan Sendiri
Kisah Hacker Insaf yang Nekat Membuat KTP Palsu hingga Buat Perusahaan Sendiri
"Saya dulu sering telat sekolah kan, saya dikenal bandel. Tapi setelah tahu saya masuk koran akhirnya dimaklumi," kata Tyovan Ari Widagdo.
Usai namanya dikenal, ada kejadian unik yang akhirnya sampai membuat Najwa Shihab.
Yakni momen saat Tyovan Ari Widagdo dengan nekatnya membuat KTP palsu.
Menjawab kekagetan Najwa Shihab, Tyovan Ari Widagdo pun akhirnya memberikan penjelasan.
"Dan, umur 16 tahun, bikin perusahaan sendiri, itu pakai KTP palsu ?" tanya Najwa Shihab.
"Iya karena waktu itu, setelah saya running start up saya, mulai banyak tawaran untuk membuat aplikasi. Saya mulai dikenal. Setelah itu saya mendapatkan project yang nilainya cukup besar Rp 25 juta. Tapi syaratnya saya harus punya legal company," imbuh Tyovan Ari Widagdo.
Usai mengetahui syarat tersebut, Tyovan Ari Widagdo pun akhirnya pergi ke kantor notaris sambil mengenakan seragam sekolah.
Namun sayang, niatannya itu pun harus kandas karena menurut sang notaris, Tyovan Ari Widagdo muda tak akan bisa membuat sebuah perusahaan karena usianya belum cukup.
Alhasil, Tyovan Ari Widagdo akhirnya nekat membuat sebuah KTP palsu agar dirinya bisa membuat sebuah perusahaan yang resmi.
"Yaudah, saya akhirnya pulang. Mikir lagi ini gimana caranya. Otak hackernya muncul lagi "
"Saya mencoba, ini gimana caranya pokoknya harus dapat. Karena itu lumayan. Akhirnya saya bikin KTP palsu. Trus saya dateng ke notaris yang lain pakai baju yang rapi. Akhirnya bisa, dan bikin CV . Itu perusahaan pertama saya kelas 2 SMA," pungkas Tyovan Ari Widagdo.
Alasan yang dipaparkan Tyovan Ari Widagdo. itu pun membuat Najwa Shihab kagum.
Ia lantas melayangkan tepukan tangan tanda penghormatan untuk Tyovan Ari Widagdo.
Tyovan Ari Widagdo pun kini diketahui adalah founder aplikasi Bahaso.com.
Perlu diketahui, Bahaso adalah aplikasi untuk belajar bahasa asing yang mudah, murah, dan cepat.
Pangsa pasarnya anak muda usia 15 sampai 35 tahun.
Ia mengaku cukup terkejut ketika banyak penggunanya adalah Tenaga Kerja Indonesia yang ada di Dubai dan Hong Kong.