Cara Berita Hoaks Bisa Memengaruhi Pikiran Kita

Istilah berita palsu bukanlah hal yang baru, namun harus diakui jika kehadirannya semakin meresahkan masyarakat di seluruh dunia.

Editor: Fitriadi
Intisari
Ilustrasi berita hoax 

Orang kreatif yang memiliki kemampuan kuat untuk mengaitkan kata-kata yang berbeda akan sangat rentan terhadap ingatan yang salah.

Bahkan beberapa orang mungkin lebih rentan daripada orang lain dalam mempercayai berita palsu, tetapi tidak dapat dipungkiri jika semua orang tentu saja berisiko.

Bagaimana bias mampu memperkuat berita palsu

Bias adalah bagaimana perasaan dan pandangan dunia kita mempengaruhi proses pembuatan suatu pesan dan pengambilan memori diri kita.

Kita mungkin ingin menganggap ingatan kita sebagai seorang pembuat arsip memori yang sangat berhati-hati mengenang suatu peristiwa, tetapi kadang-kadang kita malah lebih seperti seorang pendongeng.

Kenangan dibentuk oleh keyakinan kita dan dapat berfungsi untuk mempertahankan narasi yang konsisten daripada catatan yang akurat.

Contoh dari hal ini adalah paparan selektif, yaitu kecenderungan untuk mencari informasi yang akan memperkuat keyakinan kita terhadap hal yang sudah ada sebelumnya dan untuk menghindari informasi yang mempertanyakan keyakinan kita.

Efek ini didukung oleh bukti bahwa pemirsa berita televisi sangat partisan dan ada di ruang (echo chamber) mereka masing-masing, di mana orang hanya mendengar pendapat dari kelompok mereka, atau pendapat yang mirip dengan pendapat mereka sendiri.

Tadinya, komunitas online diyakini menunjukkan perilaku yang sama dan berkontribusi pada penyebaran berita palsu, tetapi ini tampaknya hanya sebuah mitos.

Situs berita politik sering dihuni oleh orang-orang dengan latar belakang ideologis yang beragam dan ruang echo chambersmungkin lebih banyak ada dalam kehidupan nyata daripada online.

Otak kita terhubung untuk mengasumsikan hal-hal yang kita yakini berasal dari sumber yang dapat dipercaya. Tetapi apakah kita lebih cenderung mengingat informasi yang memperkuat keyakinan kita? Sepertinya tidak juga..

Orang yang memegang kepercayaan kuat mengingat hal-hal yang relevan dengan keyakinan mereka, tetapi mereka juga mengingat informasi yang bertentangan. Ini terjadi karena orang termotivasi untuk mempertahankan keyakinan mereka dari pandangan yang berlawanan.

Keyakinan yang tersebar antar orang yang memiliki pandangan yang sama menunjukkan kesulitan mengoreksi informasi yang salah. Berita hoaks sering dirancang untuk menarik perhatian.

Berita palsu tetap dapat mempengaruhi bahkan setelah berita itu dibantah karena pesannya berhasil memproduksi reaksi emosi yang kuat dan dibangun berdasarkan narasi yang kita miliki.

Koreksi atas berita palsu memiliki dampak emosional yang jauh lebih kecil, terutama jika mereka memerlukan perincian kebijakan, sehingga harus dirancang untuk memenuhi kebutuhan atas naratif serupa agar bisa efektif.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved