HORIZON

Pentas Lucu Si Badut Novanto

Ibarat orang yang sekarat setelah ditikam pisau, maka tikaman pisau berikutnya tak lagi terasa sakitnya.

Pentas Lucu Si Badut Novanto
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Terdakwa kasus korupsi KTP Elektronik Setya Novanto mendengarkan keterangan saksi pada sidang lanjutan kasus pengadaan KTP Elektronik di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (14/3/2018). 

KREDIBILITAS lembaga pemasyarakatan kembali terkoyak. Kali ini, ulah "lucu-lucuan" ala badut dilakukan oleh mantan Ketua DPR Setya Novanto yang tertangkap kamera netizen sedang pesiar di sebuah minimarket bahan bangunan. Ia menyempatkan diri belanja keramik di tengah izin berobatnya pada Jumat (14/6) siang.

Tiket terpidana kasus e-KTP ini bisa jalan-jalan ke toko bangunan House of Roman, Padalarang, Kabupaten Bandung bermula dari keluhan mantan umum DPP Golkar ini mengeluh tangan kirinya tak bisa digerakkan.

Sebagai penghuni "spesial" di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sukamiskin Bandung, keluhan tangan kiri yang tak bisa digerakkan ini sudah lebih dari cukup menjadi alasan seorang Novanto untuk cuti keluar dari dalam Lapas.

Atas keluhan yang barangkali bagi orang kebanyakan di republik ini adalah sesuatu yang sepele, namun karena yang mengeluh Novanto hasilnya berbeda. Keluhan tersebut pada Senin (10/6) harus direspon dengan sidang tim pengamat pemasyarakatan. Dan hasilnya, tim mengusulkan perawatan terencana lanjutan berobat di rumah sakit di luar lembaga pemasyarakatan.

Akhirnya, Selasa (11/6) Novanto dibawa ke Rumah Sakit (RS) Sentosa, Bandung, dikawal petugas Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin dan petugas Polsek Arcamanik, sekira pukul 10.23 WIB. Novanto kemudian menjalani rawat inap di lantai 8, kamar 851, RS Santosa.

Belum puas tiga hari bermalam di luar Lapas, Novanto masih minta tambahan pada Jumat (21/6) siang. Ia mengelabui petugas dan memilih pelesir ke supermarket bahan bangunan saat beralasan mengurus administrasi perawatannya.

Dan "pertunjukan" tambahan dari Novanto ini rupanya tertangkap kamera netizen yang kemudian menjadi viral. Tontonan ini tentu mengundang respon keras dari berbagai kalangan. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bahkan dengan tegas mengingatkan Ditjen PAS soal perbaikan tata kelola lembaga pemasyarakatan.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah menyebut kasus Setya Novanto (Setnov) tersebut bisa mempengaruhi kredibilitas Kementerian Hukum dan HAM, khususnya Ditjen Pemasyarakatan.

Jika terjadi dalam situasi normal, ulah Novanto ini tentu akan menciderai rasa keadilan masyarakat. Ulah Novanto menguatkan kesan bahwa terpidana kasus korupsi tetap saja memperoleh hak istimewa meski secara formal mereka berada di balik jeruji besi.

Atau lebih tepatnya, ulah Novanto ini semakin menguatkan kesan bahwa, asal masih punya uang, penjara bagi seorang koruptor bisa diubah menjadi apartemen mewah. Dan rupanya, rasa keadilan di publik sudah dalam kondisi yang benar-benar memprihatinkan.

Publik sudah terlalu sering melihat tontonan-tontonan serupa. Sebut saja seorang Gayus Tambunan yang terlihat bisa bepergian nonton tenis di Bali sementara statusnya ada di balik jeruji besi. Kasus-kasus serupa sudah sangat sering terjadi, termasuk keberadaan sel mewah di dalam penjara yang bisa dihuni oleh narapidana kaya.

Jika sekali dua kali melihat tontonan yang menunjukkan ketidakadilan, yang terjadi adalah tersampasnya rasa keadilan publik. Namun karena tontonan tersebut sudah terlalu sering, maka bukan lagi rasa keadilan yang terkoyak. Ibarat orang yang sekarat setelah ditikam pisau, sekali dua kali tusukan itu sangat menyakitkan. Namun saat pisau itu membuatnya sekarat, maka tikaman berikutnya tak lagi terasa sakitnya.

Ngelencernya Gayus, terkuaknya sel mewah di sejumlah Lapas dan aksi Novanto di Supermarket Bangunan bagi publik tak lebih dari sebuah lelucon gratis yang hanya layak untuk ditertawakan. Dan publik paham betul, Si Badut Novanto hanyalah pemain utama dalam tontonan tersebut. Kelucuannya tak mungkin sukses mengocok perut tanpa peran badut-badut lainnya yang mungkin tak muncul di panggung utama.

Publik juga paham skenario akhir dari pementasan 3 jam tersebut. Bakal ada pion-pion di papan catur yang bakal dipersalahkan. Sementara badut-badut yang lain tetap akan disimpan untuk menyiapkan epilog-epilog lain yang akan tampil berikutnya. (***)

Penulis: ibnu Taufik juwariyanto
Editor: ibnu Taufik juwariyanto
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved