Berita Belitung

Menabung Sampah, Aksi Nyata Cinta Alam dan Jadikan Sampah Sebagai Berkah

Sampah plastik kerap jadi permasalahan lingkungan yang masih sulit teratasi karena sifatnya yang sulit terurai.

posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari
Peresmian Bank Sampah Beres Sekolah Universal. 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Sampah plastik kerap jadi permasalahan lingkungan yang masih sulit teratasi karena sifatnya yang sulit terurai.

Indonesia bahkan menjadi negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Tapi gerakan sederhana yang dimulai sejak dini yakni menabung sampah di Bank Sampah, Sekolah Universal berharap bisa menjadi aksi nyata mencintai alam.

Ruangan yang digunakan sebagai bank sampah sebenarnya tak terlalu besar, namun nyaman sebagai tempat bertransaksi. Tiga siswa bersiap di balik meja layanan, menunggu nasabah menabung.

Di kanan meja layanan juga terdapat barang-barang yang bisa ditukarkan. Ada baju, celengan, gantungan kunci, dan lainnya yang memiliki poin tertentu baru dapat ditukarkan.

Papan informasi daftar harga sampah serta pajangan gaun dari plastik yang didaur ulang menghiasi sudut kiri ruangan.

Dua siswa membawa karung berisi sampah ke Bank Sampah Beres (bersih, elok, dan sehat) di Sekolah Universal, Jalan Aik Ketekok, Tanjungpandan, Jumat (21/2/2020).

Setelah menunjukkan kertas ala buku tabungan di bagian informasi, ia dipersilahkan menunggu sesaat. Tak lama kemudian, namanya dipanggil, sampah yang dibawanya lalu ditimbang dan dicatat.

Aktivitas ini merupakan simulasi yang dilakukan saat transaksi menabung sampah dilakukan.

Di bank sampah, siswa yang menabung bisa langsung menukarkan dengan uang atau barang jika mencapai limit minimal Rp 50.000 atau 30 hari pasca menabung.

"Kalau limitnya sudah sampai boleh, kalau misalnya hanya bawa 5.000-an langsung ditukar agak repot, jadi menabung dulu sampai banyak," ujar Ketua Yayasan INLA (International Nature Loving Association) Belitung Chandra.

Saat ini Bank Sampah Beres baru menerima dua jenis sampah yakni plastik dan kertas. Sementara sampah logam belum dilakukan karena pelayanan dan pengelolaan bank sampah dilakukan siswa, sehingga dikhawatirkan justru berbahaya bagi siswa.

Meski begitu, rencananya sampah dapur dan sisa sayuran juga akan diterima agar bisa digunakan membuat pupuk organik maupun kompos.

Sampah-sampah yang terkumpul nantinya akan dimanfaatkan bergantung jenis sampahnya. Jika sampah tersebut bisa didaur ulang, maka sekolah dan yayasan akan mengelola sampah tersebut. Sementara sampah plastik akan disalurkan ke pengepul atau ke pabrik plastik di Suge, Kecamatan Badau.

Sebanyak satu ton sampah plastik juga ditarget bisa terkumpul dalam sebulan. Artinya dalam sehari Bank Sampah bisa mengumpulkan lebih dari 30 kilogram sampah plastik maupun kertas.

"Jadi minimal sudah bisa mengurangi sampah plastik di kawasan Tanjungpandan," ujarnya.

Sumber: Pos Belitung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved