Inilah Ternyata Penyebab Sebagian Orang Rentan Terinfeksi Virus Corona

Inilah Ternyata Penyebab Sebagian Orang Rentan Terinfeksi Virus Corona

Twitter/Muhammadiyah
Ilustrasi berperang melawan virus. 

Respons bawaan ini langsung muncul, menghasilkan zat yang disebut sitokin, yang menyebabkan demam dan peradangan jaringan ketika sel-sel mulai mati.

"Itu mekanisme alami dari sel-sel ini, untuk melawan dan bunuh diri jika mereka sudah terinfeksi," ujarnya.

Ada juga sel darah putih, yang dikenal sebagai sel pembunuh alami, yang mendeteksi sel yang terinfeksi dan membunuhnya.

Garis pertahanan kedua terjadi dalam spektrum sel darah putih lainnya seperti monosit, makrofag dan neutrofil.

Terbaru Virus Corona di Jakarta: 48 Pasien Meninggal, 495 Orang Positif per Kamis 26 Maret 2020

Sel-sel ini memantau lingkungan dan mencoba mengenali infeksi, kemudian melepaskan hormon kekebalan untuk menyiapkan sel-sel lain dari kemungkinan terinfeksi.

Lalu, garis pertahanan ketiga adalah sistem adaptif, yang membutuhkan beberapa hari untuk bekerja.

Pada tahap ketiga ini, sel darah putih seperti sel-T akan berusaha membunuh sel yang terinfeksi, dan sel-B akan menghasilkan antibodi yang dapat menetralisir virus atau melapisi mereka dengan zat sehingga mereka dapat dikenali oleh sel-T.

Yang jadi masalah dengan virus corona baru ini adalah kita tidak memiliki antibodi atau sistem kekebalan adaptif. Artinya, tidak ada garis pertahanan ketiga dalam tubuh kita.

Jika sistem kekebalan tidak dapat menghentikan replikasi virus, hal itu akan meningkatkan peradangan, terutama di paru-paru. Inilah yang menyebabkan viral pneumonia.

"Di sinilah pentingnya tubuh kita untuk tetap gesit. Dan yang tetap gesit dari sistem kekebalan kita adalah sistem bawaan."

Kenapa kekebalan sebagian orang lebih lemah?

Sistem kekebalan tubuh orang yang sangat tua dan orang yang sangat muda, diketahui lebih lemah daripada kebanyakan orang lain.

"Seiring bertambahnya usia, beberapa sel juga menua dan menjadi kurang gesit dalam kemampuan mereka untuk merespons infeksi," jelasnya.

Biasanya bayi dan anak-anak memiliki risiko lebih besar karena sistem bawaan belum matang, namun hal itu tampaknya tidak terjadi pada COVID-19.

Orang yang mengidap penyakit atau memakai obat yang menekan sistem kekebalan tubuh juga kurang gesit.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved