Ekonomi

Covid-19 Berdampak Signifikan, Sektor Pariwisata Sempat Optimis, Pegawai WFH Segerakan Bansos

Yang harus menjadi perhatian pemerintah adalah kelompok masyarakat yang biasanya mengandalkan pendapatan harian.

posbelitung.co / Ferdi Aditiawan
Aktivitas toko sembako di Pasar Tradisional Tanjungpandan 

POSBELITUNG.CO, BANGKA -- Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Babel sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung, Dr Reniati mengungkapkan kondisi perekonomian Babel memang mengalami perlambatan sejak tahun 2018 dengan pertumbuhan ekonomi diangka 4,45 persen kemudian mengalami penurunan kembali di tahun 2019 yaitu 3,32 persen.

"Diawal tahun 2020 kita sebenarnya sudah optimis untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dimana Pemerintah Pusat menargetkan angka 5,3 persen dengan sejumlah asumsi indikator makro yang mengalami perbaikan,"ujar dr Reniati saat dikonfirmasi bangkapos.com, Rabu (8/4/2020).

Di Bangka Belitung sendiri dalam press release BPS untuk triwulan pertama neraca perdagangan masih surplus karena ekspor yang masih didominasi oleh timah sebesar 86,45% masih lebih tinggi dibandingkan impornya dimana impor non migas masih mendominasi sebesar 70,16 persen dan migas sebesar 29,14 persen.

"Untuk kunjungan wisatawan di triwulan pertama 2020 juga ada peningkatan dibanding nasional. Tetapi setelah ada isu lockdown dan terkonfirmasinya ada penderita Covid-19 di Belitung maupun di Bangka para pengusaha travel, hotel dan restoran serta oleh-oleh khas bangka belitung mengalami penurunan drastis dari 30 -80 persen,"katanya.

Covid-19 berdampak signifikan kebeberapa sektor dari mulai sektor kesehatan, transportasi, pariwisata, pendidikan, pendapatan masyarakat, dan kehidupan sosial masyarakat karena tekanan kekhawatiran baik dari Covid-19 itu sendiri maupun ketercukupan untuk memenuhi kebutuhan.

*Pemerintah Perlu Perhatikan Masyarakat Penghasilan Harian*

Reniati mengatakan beberapa hari terakhir ini terdengar sudah beberapa pelaku usaha yang merumahkan pekerjanya.

Saat ini para pegawai atau pekerja masih bisa memanfaatkan tabungannya untuk memenuhi kebutuhannya.

"Dan jika mereka tidak memiliki tabungan yang masih bisa dilakukan adalah dengan melakukan kegiatan lain untuk menambah pendapatan dengan berkebun, menanam beberapa tanaman yang biasanya kita beli di pasar, bahkan ada sebagaian masyarakat memanfaatkan waktunya untuk mencari ikan," jelasnya.

Selain itu juga bisa menambah pendapatan dengan berbisnis dari rumah, karena Work From Home, tentunya tanpa mengesampingkan tugas-tugas dari kantor (utama).

Menurutnya, yang harus menjadi perhatian pemerintah adalah kelompok masyarakat yang biasanya mengandalkan pendapatan harian.

"Dalam kondisi saat ini seperti pedagang keliling, atau yang biasanya membuka kantin atau usaha di sekitar sekolah atau kampus atau kantor mengalami penurunan yang drastis dan mulai kebingungan untuk mencari solusi penambahan pendapatan. Maka program bantuan sosial kepada kelompok masyarakat ini harus disegerakan,"sebut Reniati.

Perlu koordinasi kepala daerah tingkat provinsi dengan OPD yang ada dibawahnya maupun dengan kepala daerah di kabupaten atau kota harus terus menerus dilakukan dengan kompak, karena kondisi seperti ini perlu dipantau terus menerus agar masyarakat tetap optimis.

"Kemudian pasokan logistik terkait dengan sembako harus dipastikan cukup dan lancar sehingga tidak ada panic buying, oleh karena itu Tim TPID memiliki tugas memantau harga kebutuhan pokok dan memastikan tidak ada penimbunan seperti beras, gula pasir, tepung terigu, minyak goreng dan gas,"tuturnya.

(Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Editor: Hendra
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved