Breaking News:

Virus Corona di Bangka Belitung

Seputar Kasus Covid -19 di Belitung Timur, Simak Penjelasan dr Cahyo Purnomo

Penanganan kasus Covid-19 di Belitung Timur kembali disorot setelah dua bulan tidak ada penambahan kasus positif, pada Jumat (9/10/2020) lalu

posbelitung.co
Direktur RSUD Beltim 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG-- Penanganan kasus Covid-19 di Belitung Timur kembali disorot. Setelah dua bulan tidak ada penambahan kasus positif, pada Jumat (9/10/2020) lalu satu kepala OPD yaitu H (51) dinyatakan terkonfirmasi terpapar virus corona.

Tak berselang lama, kepala OPD lainnya yaitu PN dilarikan ke rumah sakit karena mengalami lemas dan muntah-muntah. Diketahui PN pernah berkontak erat dengan H beberapa hari sebelumnya saat ada kegiatan bersama di Tanjungpandan.

Sempat mengalami koma beberapa jam, PN akhirnya dinyatakan meninggal dunia di ruang isolasi RSUD Beltim dengan diagnosis suspek stroke hemoragik dan suspek covid-19.

"Suspek stroke hemoragik karena keadaan pasien memburuk sehingga tidak dimungkinkan melakukan CT scan. Sedangkan suspek covid-19 karena belum bisa memastikan positif atau negatif covid-19 karena belum melakukan pengambilan sampel swab," terang Direktur RSUD Beltim dr Cahyo Purnomo kepada posbelitung.co, Senin (12/10/2020) di Kantor DPRD Beltim.

Berdasarkan informasi yang didapat dari kawalcovid19.id, pengambilan sampel swab masih bisa dilakukan walaupun pasien sudah dinyatakan meninggal dunia. Pengambilan swab ini disebut juga sebagai pengambilan swab post mortem.

Saat posbelitung.co menanyakan kenapa tidak melakukan post mortem terhadap PN, dr Cahyo mengatakan ruang autopsi di RSUD Beltim tidak memenuhi standar Bio Safety Level 2.

"Ruang autopsi kita belum bisa memenuhi standar minimal keamanan untuk melakukan post mortem sehingga hal itu tidak dilakukan," kata dr Cahyo.

Dilansir dari kawalcovid19.id, pemeriksaan post mortem dimungkinkan dilakukan pada kasus terduga atau kemungkinan terinfeksi covid-19. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengambil sampel dari saluran pernapasan pasien atas persetujuan keluarga dan ada surat keterangan dari polisi. Pemeriksaan ini dilakukan dari sampel yang berasal dari naso atau orofaring pasien yang sudah meninggal.

Pemeriksaan post-mortem harus benar-benar dilakukan sesuai dengan prosedur dan langkah-langkah pencegahan mengenai penggunaan perlengkapan pelindung pribadi yang disarankan (perlindungan primer). Ruang autopsi juga harus yang memenuhi standar keamanan bio level (BSL) 2 (perlindungan sekunder).

Spesimen dari jalur pernafasan untuk COVID-19 uji PCR atau TCM harus diambil sesegera mungkin dan dikirimkan ke Departemen Patologi (rujuk panduan COVID-19 untuk Indonesia). (Posbelitung.co/BryanBimantoro)

Penulis: Bryan Bimantoro
Editor: Fery Laskari
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved