Breaking News:

Berita Belitung

Tumpang Tindih Lahan Geosite Open Pit Nam Salu, BP Geopark Belitong Masih Mencari Win-win Solution

Tindak lanjut permasalahan tumpang tindih pemanfaatan kawasan bekas tambang Open Pit Namsalu sebagai geosite, pihaknya masih mencari win-win solution.

Penulis: Suharli | Editor: nurhayati
Posbelitung.co/Suharli
Ketua Umum Badan Pengelola (BP) Geopark Belitong, Yuspian. 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Ketua Umum Badan Pengelola (BP) Geopark Belitong, Yuspian mengatakan, terkait tindak lanjut permasalahan tumpang tindih pemanfaatan kawasan bekas tambang Open Pit Namsalu sebagai geosite, pihaknya masih mencari win-win solution.

Yuspian menjelaskan saat ini memang Geopark Belitong sedang mengupayakan penyelesaian melalui pemerintah pusat.

"Dalam hal ini secara garis besar ada tumpang tindih kepentingan, satu sisi itu merupakan kawasan hutan lindung, satu sisi itu adalah IUP Tambang, dan sisi lain itu merupakan geosite," ungkap Yuspian.

Menurutnya masing-masing pengguna kawasan mempunyai prinsip-prinsip sendiri, misalnya hutan lindung ke konservasinya, begitu juga dengan geosite,

Namun diakui Yuspian, berbeda halnya dengan tambang yang kendali lingkungannya bisa berbenturan dengan konsep koservasi karena kemungkinan untuk destruktif karena sifatnya mengambil material tambang.

"Nah di dalam beberapa kali pertemuan, memang kami sedang mencati pola win-win solution akan seperti apa, yang memungkin semua kepentingan itu saling berjalan," kata Yuspian.

Menurutnya hutan lindung sebagai kelestarian tetap berjalan, geosite juga tetap berjalan karena di Open Pit sudah ada warisan geologi yang diakui oleh Unesco Global Geopark.

Open Pit Nam Salu menurutnya, merupakan satu diantara geosite yang  memiliki nilai internasional, yang dimiliki oleh Open Pit Namsalu yakni nilai sejarah tambang dan juga adanya metasedimen formasi Kelapa Kampit, yang usianya sekitar 357 juta tahun.

"Tentunya kami dari BP Geopark Belitung melihat kalau persoalan ini baik itu BP Geopar sendiri maupaun kabupaten dan provinsi tidak bisa menyelesaika  permasalahan ini sendiri, karena perizinan kewenangan tambang ada di pusat," ungkap Yuspian.

"Kami berharap kedepan, kepentingan ini idealnya masing-masing bisa berjalan. Nah kami belum tahu solusi akhirnya akan dilakukan peninjauan ulang terhadap realokasi, pengurangan lokasi, atau teknik kerja tambangnya akan seperti apa, nanti kami serahkan kepada pakarnya," lanjut Yuspian.

Ia menilai, semua kepentingan jtu bisa berjalan dengan kewenangan masing-masing, kalau pun tidak bearti harus ada yang dikorbankan dalam hal tumpang tindih ini.

"Kalau memang setelahditimbang menguntungkan ditambang, berarti kami harus siap-siap kehilangan satu diantara heritage yang menjadi unggulan Geopark Belitung. Karena Open Pit akan hilang dengan sendirinya sebagai geosite karena akan sulit mempertahankan warisan itu. Kalau pun ada solusi lain (tambang) untuk direlokasi ditempat yang memungkinkan, itu lah yang kami inginkan jadi kepentingan masing-masing bisa berjalan, namun kembali lagi ini sudah menjadi pusat," bebernya.

Sementara itu terpisah pengelola geosite Open Pit Nam Salu, Tino berharap tambang dan geo site Open Pit bisa berjalan berdampingan.

"Harapan kami (kalaupum ada wacana untuk menambang) di luar delinasi yang sudah dilindungi oleh Unesco. Di luar dari zona inti dan zona penyangga geo site Open Pit Namsalu," saran Tino.

(Posbelitung.co/Suharli)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved