Uang Koin 500 Mengandung Emas, Dihargai Rp 750.000 per Keping, Ini Penjelasan BI Hingga URK Ditarik

Uang koin 500 berwarna kuning sempat tenar karena dijadikan bahan membuat cincin, berat 5,3 gram dan diameter 24 mm mulai beredar 1991 hingga 1994

Penulis: Hendra | Editor: Hendra
Tokopedia
Uang koin 500 Rupiah Lama bergambar melati yang dikabarkan dihargai Rp 750.000 per keping 

POSBELITUNG.CO -- Viral di media sosial uang koin Rp 500 berwarna kuning dihargai Rp 750.000 per kepingnya.

Harga uang koin ini mahal disebut-sebut karena bahannya mengandung emas.

Kabar ini tentunya membuah heboh netizen apalagi disaat tengah kondisi perekonomian masa pandemi covid-19 ini.

Uang koin ini dicetak Departemen Cetak Uang Logam dan Logam Non Uang Peruri dan mulai beredar dari tahun 1991 hingga 1994.

Baca juga: Viral Uang Rp 500 Gambar Melati Dihargai Rp 750.000, BI Akui Tapi Khusus yang Berbahan Ini

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah uang koin 500 mengandung emas?

Dikutip dari Intisari.Grid.Id yang dilansir Minggu, 29 April 2018, uang koin yang berwarna kuning ini sekilas mirip dengan emas asli.

Viral uang koin Rp 500 gambar melati dihargai hingga Rp 750.000
Viral uang koin Rp 500 gambar melati dihargai hingga Rp 750.000 (Tokopedia/MotorPlus)

Bahkan uang koin 500 ini sempat tenar karena dijadikan bahan untuk membuat cincin.

Koin dengan berat 5,3 gram dan diameter 24 mm ini sekarang sudah sangat jarang ditemukan.

Walau jumlah yang diketahui telah beredar mencapai angka 251 juta keping saat itu.

Koin Rp 500 yang sangat khas ini adalah yang memiliki gambar flora (tumbuhan) yakni bunga melati pada satu sisinya, sedangkan sisi lain lambang negara Indonesia.

Namun rupanya setelah di telusur, bahan dari koin ini bukan emas melainkan aluminium-perunggu.

Baca juga: Aturan Baru Syarat Perjalanan PPKM Jawa-Bali, Hasil Antigen Negatif tak Berlaku di Wilayah Ini

Untuk membuat uang koin Rp 500 tidaklah mungkin dengan bahan lebih dari nilai uang itu sendiri.

Hal ini telah dijelaskan oleh Kepala Departemen Cetak Uang Logam dan Logam Non Uang Peruri pada 29 Mei 2013 silam.

Emas yang mahal jelas tidak memenuhi syarat bahan baku untuk produksi uang tersebut.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved