Lipsus Kue Satu Khas Belitung

Kacang Dianggap sebagai Simbol Perlawanan Kemiskinan

Meski sekarang justru berbalik. Perlawanan bisa menjadi kesuksesan, miskin berubah kaya,. Ini karena 'wonder bean'.

Penulis: Dede Suhendar | Editor: Novita
Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari
Budayawan Belitung, Fithrorozi 

News Analysis

Fithrorozi

Budayawan

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Perlawanan yang cukup berat adalah kelaparan. Demi isi perut, orang bisa mengorbankan harga diri dengan alasan bertahan hidup.

Anehnya kenyang, makanan berlimpah, tidak serta merta dianggap sebagai puncak perlawanan.

Bahkan makanan yang berlebihan bisa menjadi awal petaka hidup. Masa lalu merdeka, masa kini harus berpantang.

Kekurangan makan identik dengan kemiskinan atau sering dihubungkan dengan daerah pinggiran. Lalu, muncul simbol perlawanan dan muncullah istilah 'wonder bean' alias kacang.

Istilah ini muncul dari bangsa Amerika Latin. Maka tak heran kuliner berbahan kacang populer di Brasil, Mexico atau negeri sepanjang Sungai Amazon.

Beberapa sumber menyebut kacang tersebar lewat aliran sungai.

Data terbaru, konsumsi kacang di China menggeser popularitas camilan berbahan dari cokelat dan manisan.

Cokelat dan manisan memang untuk pemanis (topping) yang utama kacang mete atau kacang kedelai.

Dilansir dari www.cnnindonesia.com, temuan Mintel Global New Products Database (GNDP) yang menunjukkan produksi camilan kacang meningkat di China antara 2014 dan 2016 sebesar 17,5 persen.

Selain Amerika Latin, Tiongkok juga negara yang menjadikan kacang sebagai simbol perlawanan kemiskinan.

Sekarang populer dengan istilah resilencing (ketahanan pangan), bukan ketahanan perut.

Tahu (serapan kata Tauhu dalam dialek Hokkian) tauco, kecap , tao sa, shatao, populer di Tiongkok yang dianggap selera makan orang miskin.

Sumber: Pos Belitung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved