Lipsus Budidaya Kepiting Bakau
Pembudidaya Kepiting Bakau Belitung Terkendala Pasokan Benih
Sebab, dalam pembenihan kepiting harus dilakukan secara telaten bahkan tempat pembesarannya tidak boleh dicampur.
Penulis: Dede Suhendar |
POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Potensi kepiting bakau di Kabupaten Belitung sementara ini hanya mengandalkan hasil tangkapan dari alam.
Oleh sebab itu, jika dilakukan dalam jangka waktu lama dikhawatirkan populasinya akan menurun.
Salah satu solusi menjaga kelestarian hewan bernama latin Scylla itu dengan membuka budidaya.
Namun kelompok pembudidaya kepiting bakau di Belitung masih terkendala ketersediaan benih untuk menjaga keberlangsungan budidaya itu sendiri.
"Kalau budidaya itu ada kepastian, berbeda dengan tangkap. Memang potensi ada tapi kalau dibuka, suatu saat akan menjadi kendala juga," kata Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Belitung, Firdaus Zamri kepada Pos Belitung, Kamis (20/1).
Ia mengatakan sementara ini, Dinas Perikanan Kabupaten Belitung bekerja sama dengan pembudidaya swasta yang berlokasi di Desa Terong, Kecamatan Sijuk. Menurutnya pemilik budidaya tersebut masih melakukan pengembangan di pembenihan.
Sebab, dalam pembenihan kepiting harus dilakukan secara telaten bahkan tempat pembesarannya tidak boleh dicampur.
"Karena pada saat kepiting ini masuk tahap ganti kulit itu sangat rentan mati, bisa dimakan sesama jenis atau hewan lain. Jad harus telaten merawatnya," jelas Firdaus.
Ia menambahkan sebenarnya dinas perikanan sudah lama memikirkan potensi budidaya kepiting bakau. Bahkan secara undang-undang sudah diatur. Tetapi masih kendala yang menghambat keberlangsungan dari sektor budidaya tersebut.
"Sebenarnya kami sudah lama memikirkan ini bahkan undang-undangnya juga sudah mengatur itu," katanya.
Kasi Produksi Dinas Perikanan Kabupaten Belitung Beno menambahkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56/Permen-Kp/2016 telah mengatur kategori penangkapan kepiting, lobster dan rajungan seperti lebar kerapas serta kondisi yang sedang bertelur.
Namun, penerapan di lapangan masih terdapat pelanggaran contohnya kepiting ukuran kecil masih juga ditangkap.
Oleh sebab itu, salah satu solusinya membuka budidaya sekaligus penetasan (hatcery) dan pendederan agar produksi kepiting bakau tetap terjaga.
Namun untuk menjaga keberlangsungan budidaya bergantung pada ketersediaan benih. Khusus di Kabupaten Belitung, ketersediaan benih hanya berharap pada tangkapan alam sehingga tidak bersifat continue.
"Sama dengan kerapu sunuk misalnya, itu benihnya masih dari alam. Jadi sangat tergantung alam, kalau dapat ya dapat kalau tidak dapat ya kosong, kalau hitcery ini bisa menjaga keberlangsungan itu," katanya.
(Posbelitung.co/dede s)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/20210407-firdaus.jpg)