Berita Belitung

BBM Langka di Belitung, Wabup Isyak Meirobie: Pengguna Motor Bagus Masak Isi Pertalite?

Menurut Isyak, hal yang harus dilakukan adalah menambah jumlah stok pertamax dan menunggu momentum meredanya panic buying masyarakat.

Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Novita
(posbelitung.co/dede s)
Wakil Bupati Belitung Isyak Meirobie. 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Beberapa waktu terakhir, bahan bakar minyak ( BBM) mengalami kelangkaan disusul panjangnya antrean pengendara di sejumlah SPBU.

Menanggapi hal ini, Wakil Bupati Belitung, Isyak Meirobie, mengatakan sejak harga pertamax naik, sedangkan harga pertalite tidak naik, terjadi disparitas yang cukup jauh sehingga membuat terjadi migrasi pengguna pertamax ke pertalite.

Pertalite yang sebenarnya ditujukan buat orang kurang mampu secara ekonomi, karena pertalite merupakan minyak subsidi dan membebankan APBN. Makanya, ketika banyak pengguna pertamax beralih ke pertalite, kuota pertalite tidak akan cukup meskipun Pertamina tidak mengurangi kuota.

"Kemudian pengguna motor yang bagus masak isi pertalite? Nanti motormu turun mesin. Lebih besar biaya ketika harus mengganti sparepart motor. Ini yang orang tidak berpikir jangka panjang, hanya berpikir jangka pendek," kata Isyak, Rabu (20/4/2022).

Selain itu, Belitung berbeda dengan daerah lain. Jika kuota pertamax dan pertalite tidak ditambah, sampai kapan pun akan terjadi antrean karena pengguna BBM bukan cuma pengguna motor atau kendaraan biasa, tapi juga penambang.

"Ada sektor ekonomi yang aktivitasnya menggantungkan BBM supaya bisa beroperasi, yaitu tambang rakyat yang jumlah penggunanya tidak bisa dihitung, sangat fluktuatif dan dinamis," imbuhnya.

Menurut Isyak, hal yang harus dilakukan adalah menambah jumlah stok pertamax dan menunggu momentum meredanya panic buying masyarakat. Saat ini, masyarakat cenderung berpikir menyetok BBM untuk keperluan hari raya sehingga membuat kebutuhan BBM membengkak.

Dia menyebut, Pertamina tidak mengurangi kuota, namun konsumsi dan permintaan pasar yang justru bertambah akibat panic buying dan tumbuhnya ekonomi dari sektor pertambangan. Kemudian, perlu juga antisipasi menjelang mudik.

"Bayangkan kalau setiap event Idulfitri yang mudik 3 ribu orang, yang menggunakan kendaraan deh ada 1.000 motor, konsumsinya dua liter, pergi silaturahmi membutuhkan bahan bakar. Angka inilah yang harus diakomodir pihak Pertamina melalui penambahan pertamax," kata Isyak.

" Pertamax ini kan non subsidi, sehingga Pertamina tidak dirugikan. Mau berapa pun Pertamina tetap akan untung, sehingga ketika keadaan seperti ini membuka suatu budaya baru," imbuhnya.

Solusi menghadapi ini, kata Isyak, harusnya gubernur mengeluarkan surat edaran yang mengatur jam dan maksimal pembelian. Seperti mobil hanya boleh 20 liter dan motor hanya boleh 2-5 liter per hari.

Selain itu, setelah diskusinya dengan pihak Pertamina, paling bagus pembelian pertalite diberikan kartu kontrol seperti fuel card. Jika pertalite hanya diperuntukkan bagi orang yang tidak mampu, kartu tersebut dapat diberikan kepada orang-orang yang masuk dalama data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS) di Dinas Sosial.

"Data orang yang tidak mampu dari DTKS Dinas Sosial, berapa orang, kasih kartu pertalite, yang tidak punya kartu tidak boleh beli. Tegas. Kalau tidak punya kartu tidak boleh beli. Aktivitas tambang pakai pertamax, kan bisnis," tuturnya. ( Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari)

Sumber: Pos Belitung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved