Berita Belitung

Antrean Kendaraan di SPBU Mengular, Bambang: Mestinya Kuota BBM Non Subsidi Diperbanyak

Kalaupun ada di kios pinggir jalan, harganya melonjak tinggi hingga Rp13.000 per liter. Sedangkan harga Pertamax mencapai Rp 15.000 per liter.

Penulis: Tedja Pramana | Editor: Tedja Pramana
Posbelitung.co/tedja pramana
Antrean kendaraan di SPBU Air Merbau sepi, di jalan masuk terpampang plang pemberitahuan BBM jenis pertalite di SPBU ini habis. 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Antrean kendaraan baik roda dua maupun roda empat mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Tanjungpandan, Provinsi Bangka Belitung.

Bambang Suseno, warga Tanjungpandan yang ikut antre untuk mendapatkan BBM mobilnya mengaku miris melihat panjangnya antrean kendaraan terutama sepeda motor di SPBU Air Serkuk. Warga rela antre untuk mendapatkan BBM jenis pertalite.

Kata Bambang, walau antrean kendaraan di SPBU ini tidak sepanjang antrean yang terjadi di SPBU Air Merbau maupun Air Rayak, namun cukup menyita waktunya demi mendapatkan BBM untuk kendaraannya.

"Saya miris melihat antrean yang panjang di SPBU nyerbu pertalite. Saya sudah 10 menit antre di SPBU Air Serkuk, antrean di sini tidak begitu panjang dibandingkan SPBU Air Merbau. Mestinya warga tidak harus nyerbu pertalite seperti ini, kan ada pertamax yang non subsidi," kata Bambang Suseno kepada Posbelitung.co, Selasa (26/4/2022).

Bambang menyarankan pemerintah untuk menambah kuota pertamax dan pertamax turbo. Dua jenis BBM ini harganya juga tidak terlalu mahal untuk operasional kendaraan, solusi sulitnya masyarakat mendapatkan pertalite.

"Harga pertamax Rp 12.750 dan pertamax turbo Rp 14.800, pemerintah mestinya memperbanyak dua jenis BBM non subsidi ini di SPBU juga Pertashop. Daripada beli pertalite di pinggir jalan kan juga Rp13 sampai 15 ribu per liter," katanya.

Antrean ini terjadi sejak Pertamina menaikan harga Pertamax dari harga Rp 9.000-an per liter menjadi Rp 12.750 per liter sejak 1 April 2022 untuk wilayah Bangka Belitung. Sementara harga pertalite tidak naik tetap Rp 7.650 per liter.

Diduga dengan selisih harga yang cukup jauh menyebabkan migrasi pengguna pertamax ke pertalite, sehingga kuota pertalite tidak cukup memenuhi kebutuhan, akibatnya tejadi kelangkaan pertalite di masyarakat.

Kalaupun ada di kios pinggir jalan, harga pertalite melonjak tinggi hingga Rp10.000-12.000 per liter. Sedangkan harga Pertamax mencapai Rp 15.000 per liter.

Wakil Bupati Belitung, Isyak Meirobie kepada Posbelitung, Rabu (20/4/2022) lalu mengatakan, pertalite sebenarnya ditujukan buat orang kurang mampu secara ekonomi, karena pertalite merupakan minyak subsidi dan membebankan APBN.

Makanya, ketika banyak pengguna pertamax beralih ke pertalite, kuota pertalite tidak akan cukup meskipun Pertamina tidak mengurangi kuota.

"Kemudian pengguna motor yang bagus masak isi pertalite? Nanti motormu turun mesin. Lebih besar biaya ketika harus mengganti sparepart motor. Ini yang orang tidak berpikir jangka panjang, hanya berpikir jangka pendek," kata Isyak.

Pantauan Posbelitung.co, Selasa (26/4/2022) sekitar pukul 15.30 WIB, stok pertalite di SPBU Air Merbau Tanjungpandan telah habis, sementara pertamax masih tersedia.

" Pertalite habis pak, kalau pertamax masih ada. Tidak banyak sih, kan ini untuk masyarakat umum," kata seorang pegawai di SPBU tersebut.

(Posbelitung.co/tedja pramana)

Sumber: Pos Belitung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved