Berita Belitung

Harga Tandan Buah Segar Kelapa Sawit di Belitung Anjlok, Aspeksindo Minta Perhatian Pemda

Ia mengatakan, kondisi harga TBS saat ini menjadi keluhan baik dari petani yang selalu disampaikan kepada asosiasi.

Penulis: Dede Suhendar | Editor: Novita
Posbelitung.co/Dede Suhendar
Ketua DPD Aspeksindo Belitung Mahdar hadir dalam acara Dialog Ruang Kita Pos Belitung pada Senin (18/7/2022). 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Harga Tanda Buah Segar (TBS) di wilayah Kabupaten Belitung masih jauh di bawah ketentuan dari pemerintah, khususnya pascaperayaan Idulfitri.

Kondisi itu menjadi perhatian Ketua DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia ( Aspeksindo) Kabupaten Belitung, Mahdar, yang hadir sebagai narasumber pada dialog Ruang Kita Pos Belitung pada Senin (18/7/2022).

Menurutnya, Belitung memiliki luasan kebun sawit swada sekitar 3.961 hektar pada tahun 2017. Hamparan kebun sawit milik petani terus bertambah pada 2022 yang mencapai 5.000 hektare dengan kisaran jumlah petani sekitar 2.000 orang.

"Dari lima kecamatan di Belitung, empat kecamatan seperti Membalong, Sijuk, Badau dan Tanjungpandan yang ada kebun sawit. Sebenarnya Tanjungpandan itu sedikit," kata Mahdar.

Ia mengatakan, kondisi harga TBS saat ini menjadi keluhan baik dari petani yang selalu disampaikan kepada asosiasi.

Menyikapi kondisi tersebut, Aspeksindo telah menyampaikan secara lisan kepada dinas teknis di Pemkab Belitung jika perusahaan kelapa sawit (PKS) tidak menerapkan harga yang ditetapkan pemerintah.

Bahkan harga TBS sempat menyentuh angka Rp800, Rp900 sampai Rp1.100 per kilogram.

"Memang secara resmi berupa surat belum, tapi secara lisan sudah kami sampaikan kepada dinas teknis," ucapnya.

Ia menilai, keputusan harga justru diputuskan secara sepihak oleh pabrik kelapa sawait (PKS) di bawah harga yang ditetapkan pemerintah baik pusat maupun provinsi.

Aspeksindo sendiri sudah berkomunikasi kepada pihak perusahaan menyikapi kondisi yang terjadi. Tetapi perusahaan beralasan mereka tidak sanggup membeli dengan harga tersebut.

"Padahal harga TBS di wilayah Babel berubah sebulan sekali tidak setiap hari seperti daerah lain," imbuhnya.

Menurut Mahdar, kondisi turunnya harga beli TBS memang sering terjadi semenjak tahun 2017 tetapi puncaknya terjadi pada tahun 2022. Sebab, masalahnya bukan lagi harga murah tetapi hasil panen petani swadaya sempat tidak dibeli oleh PKS.

Ia mengakui, banyak faktor yang menyebabkan kondisi tersebut, mulai dari larangan ekspor crude palm oil (CPO) yang membuat tangki milik PKS penuh sehingga tidak mampu menampung hasil panen petani.

Namun semenjak pertengahan Juni 2022 kemarin, pemerintah telah memutuskan membuka keran ekspor dan membebaskan biaya pajak.

Halaman
12
Sumber: Pos Belitung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved