Profil Selebritis

Biodata Chris Martin Vokalis Coldplay, Soal Penolakan Konser: Kami Minta Maaf  

Rencana konser grup band asal Inggris, Coldplay di Indonesia, mendapat berbagai penolakan. Berikut Biodata Vokalis Coldplay, Chris Martin :

istimewa
Chris Martin Vokalis Coldplay. (IST) 

Menurutnya, dalam Pancasila juga mengandung nilai-nilai yang menolak adanya LGBT.

Ia mendesak pemerintah untuk menolak kehadiran Coldplay ke Indonesia.

"Saya mengimbau agar panitia segera mengurungkan niatnya mendatangkan Coldplay karena masih banyak grup musik yang tidak beraliran mendukung LGBT dan atheis daripada dirugikan seperti gagalnya konser Lady Gaga, Miss World serta batalnya aktris porno Miyabi," tegasnya.

Baca juga : Biodata Suho, Personel Boy Band EXO, Si Tampan Asal Korea Baru Saja Berulang tahun

Senada dengan PA 212, MUI pun turut menolak kehadiran Coldplay.

Wakil Ketua MUI, Anwar Abbas menilai Coldplay merupakan grup band yang mendukung eksistensi kaum LGBT.

Menurutnya, hal tersebut telah bertentangan dengan UUD 1945 dan konstitusi.

"Di negeri ini ada enam agama yang diakui oleh negara di mana tidak ada satu agamapun dari keenam agama tersebut yang membenarkan dan mentolerir praktek LGBT."

"Apalagi dalam konstitusi negara kita dalam pasal 29 ayat 1945 jelas-jelas dikatakan bahwa negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa."

"Ini artinya tidak boleh ada di kegiatan yang kita lakukan di negeri ini yang bertentangan dengan ajaran agama," kata Anwar dalam keterangan tertulis, Jumat (19/5/2023).

Di sisi lain, Anwar menilai Sandiaga Uno selaku Menparekraf hanya melihat dari sisi keuntungan yang diperoleh dari digelarnya konser Coldplay tanpa memikirkan dampak lain seperti akhlak, moralitas, dan budaya bangsa.

Baca juga : Biodata Personel Aespa, Empat Cewek Korea Bakal Guncang Jakarta, Harga Termurah Rp1,1 Juta

Bahkan, Anwar menganggap pemerintah sudah layaknya miliarder keturunan Hongaria, George Soros, yang hanya memikirkan keuntungan semata dalam konteks digelarnya konser Coldplay.

"Banyak dari para pemimpin di negeri ini yang sudah tidak lagi berfikir ideologis dan pancasilais tapi sudah sangat liberal dan pragmatis sehingga kita lihat banyak sekali para pemimpin dan pejabat di negeri ini sudah berfikir dan bertindak seperti George Soros."

"Di mana yang bersangkutan ketika diberitahu bahwa dia tidak disukai di Thailand, Malaysia, dan Indonesia, dia dengan enteng menjawab 'Pada dasarnya aku hanya ingin membuat uang dan tidak peduli pada dampak sosial atas apa yang aku lakukan'," papar Anwar.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved