Berita Belitung

Tradisi Makan Bedulang di Belitung, Punya Tata Cara Serta Simbol Kebersamaan dan Saling Menghargai

Baru-baru ini, makan bedulang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia dari Kabupaten Belitung.

Tayang:
Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Novita
Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari
Wisatawan menikmati makan siang dengan tradisi makan bedulang beberapa waktu lalu. 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Makan Bedulang merupakan tradisi makan dari Belitung yang dapat diartikan sebagai makan bersama menghadap dulang atau nampan bulat pipih yang digunakan sebagai tempat meletakkan piring-piring kecil berisi lauk.

Baru-baru ini, makan bedulang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia dari Kabupaten Belitung.

Dalam tradisi makan bedulang, satu dulang untuk empat orang. Keempat orang ini akan menikmati hidangan yang disajikan dalam dulang bersama-sama.

Dulang berisi makanan ditutup dengan tudung saji merah yang disebut mentudong.

Sebagai pelengkap, tudong lambak diletakkan di atas mentudong, menandakan dulang siap disajikan.

Baca juga: Makan Bedulang dan Lesong Panjang dari Belitung Jadi Warisan Budaya Tak Benda

"Makan bedulang ini tradisi Belitung yang dalam hal adat istiadat ada aturan atau tata krama, bukan sekadar makan," kata Budayawan Belitung, Salim YAH, Senin (11/9/2023).

Adab makan bedulang yakni saat mengangkat dulang, lalu meletakkannya, si pengangkat dulang tak boleh menungging.

Untuk menyajikan dulang, ada dua orang, satu orang di antaranya sebagai pengangkat yang dalam posisi berdiri.

Sementara seorang lainnya posisi duduk bersimpuh bertugas untuk menyambut dulang dari pengangkat, lalu meletakkannya di lantai tempat makan bedulang dilakukan.

Budayawan Belitung Salim YAH
Budayawan Belitung Salim YAH (Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari)

Dulang lalu diletakkan, termasuk nasi, piring, dan tempat minum beserta air kobokan.

Di dalam dulang, diletakkan lima piring kecil berisi lauk-pauk dan di tengahnya ada mangkok sebagai wadah untuk kuliner gangan darat.

Salim menjelaskan, dulunya gangan darat yang disajikan dari bahan baku daging pelandok (pelanduk, kancil) atau daging rusa.

Namun karena kini termasuk satwa dilindungi, gangan darat yang umum berupa gangan darat daging sapi atau ayam.

Lima piring kecil sebagai wadah lauk pauk yang berupa sate ikan, opor ayam, ikan panggang, sambal nanas, dan oseng-oseng.

Jika ikan panggang yang disajikan berupa ikan besar seperti tenggiri, bagian ikan dipotong tiga.

Sumber: Pos Belitung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved