Berita Bangka Belitung

Babel Kekurangan 182 Guru SLB

Data dari Dinas Pendidikan Babel (2023) menyebutkan dari 322 jumlah alokasi guru SLB yang diperlukan di Babel.

Bangka Pos / Gogo
PLt Kepala Bidang Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Babel, Alfisyah. 

POSBELITUNG.CO, BANGKA - Data dari Dinas Pendidikan Babel (2023) menyebutkan dari 322 jumlah alokasi guru SLB yang diperlukan di Babel.

Saat ini baru 140 orang yang terisi dan masih menyisakan 182 kekosongan.

Artinya baru 43 persen kebutuhan guru yang terpenuhi.

Keberadaan guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang ada di Bangka Belitung (Babel) hingga saat ini masih dirasa sangat kurang.

Terutama khusus untuk kebutuhan guru Pendidikan Luar Biasa (PLB).

PLt Kepala Bidang Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Babel, Alfisyah menyebut walupun SLB yang ada di Babel sudah didominasi guru PLB, namun ia tak menampik bahwa kehadiran guru SLB di Babel masih sangat sedikit.

"SLB di Babel semuanya ada sembilan. Tujuh sekolah negeri dan tiap kabupaten kota ada. Sisa duanya dari sekolah swasta. Rata-rata SLB di Babel kita sudah banyak diisi dari guru PLB sendiri. Ada juga guru agama dan penjas, tapi kebanyakan dari guru PLB," katanya.

Namun jika kita bicara secara keseluruhan, SLB kita ini masih banyak kekurangan guru PLB. Data dari kita hampir seluruh SLB di Babel masih kekurangan guru," kata Alfisyah kepada bangkapos.com, Jumat (26/1/2024).

Menurutnya hal ini tak terlepas dari mekanisme perekrutan guru yang masih memprioritaskan tenaga honorer, namun di lain sisi sebagian dari mereka terkendala pada persyaratan.

"Jadi kita sekarang kan penerimaannya di PPPK dan fokusnya untuk honorer, dari data yang di dapodik, dan PPG Prajab. Cuma ya itu seperti tahun kemarin, kita buka formasi 49 orang kalau tidak salah, namun yang lulusnya hanya beberapa belas orang.

Karena honorer eksisting atau yang memenuhi syarat seperti harus S1 PLB itu hanya ada 15 orang, PPG Prajab juga masih sedikit. Sedangkan untuk formasi secara umum atau freshgraduate kita belum bisa buka. Itu yang masih jadi kendala kita bersama," terangnya.

Sehingga jelasnya dari hal ini berdampak pada ketimpangan yang terjadi antara anak disabilitas yang kian bertambah dan kapasitas guru yang masih terbilang sedikit.

"Jadi anak SLB itu banyak bertambah. Mungkin entah itu pengaruh makanan, stunting atau gizi buruk kan. Misal di Pangkalpinang saja, gurunya kurang, muridnya banyak, jadi terpaksa harus pakai shift. Di SLB Koba juga sampai harus masuk daftar tunggu untuk masuk.

Karena sekolah tidak berani menerima kalau gurunya tidak ada atau kurang, yang ada nanti tidak tercover. Jadi secara umum itu satu guru menangani lima anak, tapi kenyataannya di lapangan bisa sampai dua belas anak," terangnya.

Sebagai informasi, berikut rincian perbandingan alokasi guru dan ketersediannya saat ini yang ada di Babel.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved