Berita Belitung

Peningkatan Kasus Bayi Prematur Jadi Risiko Penyebab Stunting, Ini Penyebabnya

Menurut tim pakar percepatan penanggulangan stunting Belitung dr Daniel SpA, ada 3 penyebab yaitu pengetahuan, pernikahan dini, dan budaya masyarakat.

Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Novita
Dokumentasi Kemenkes
Peningkatan Kasus Bayi Prematur Jadi Risiko Penyebab Stunting, Ini Penyebabnya 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Meningkatnya kasus kelahiran bayi prematur menjadi risiko penyumbang terjadinya stunting atau masalah gizi kronis pada anak.

Menurut tim pakar percepatan penanggulangan stunting Kabupaten Belitung dr Daniel SpA, ada tiga penyebab yaitu pengetahuan, pernikahan dini, dan budaya masyarakat.

"Ini menjadi bom waktu karena harus benar-benar intervensi sampai dua tahun. Penyebabnya mengenai tiga hal, pengetahuan, pernikahan dini, dan budaya, ini menjadi PR, sehingga menimbulkan kelahiran prematur bagi ibu usia muda di bawah 20 tahun, bahkan ada kasus 14 tahun sudah melahirkan," jelasnya saat rapat penanggulangan stunting, Selasa (20/2/2024).

Selain itu, risiko stunting juga terjadi pada ibu yang mengalami anemia sehingga melahirkan anak dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Dari penelitian yang sempat dilakukannya pada 2021-2022 hampir semua ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki kadar hemoglobin di bawah 12, bahkan rata-rata 10 gram per desiliter.

Dengan demikian, perlu pemberian tablet tambah darah.

Namun tablet tersebut kurang disukai karena rasanya yang tidak enak, sehingga diharapkan ada tablet tambah darah yang lebih berkualitas atau formulasi tambah darah diperbaiki sehingga memiliki rasa yang enak.

Ibu hamil juga perlu dicukupi pemberian protein. Pemberian protein dalam porsi tertentu pun dapat mencegah terjadinya bayi prematur.

Ibu hamil membutuhkan protein sebanyak 60-70 gram atau dikonversikan dalam makanan sehari minimal mengonsumsi 350-400 gram makanan yang mengandung protein hewani.

Dia menambahkan, masalah stunting di Belitung lebih disebabkan masalah pengetahuan dan budaya, ada bahan protein melimpah, tapi tidak bisa dimanfaatkan optimal untuk keluarga.

Pengetahuan yang kurang ataupun memang budaya inilah yang harus diubah.

Pencegahan stunting yang dilakukan di Belitung pun mulai dari dari penyuluhan di tingkat desa, dapur umum, dan posyandu buat deteksi dini kasus stunting.

(Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari)

Sumber: Pos Belitung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved