Kawanan Buaya Jadi Kendala Tim SAR Cari Masari yang Hilang Diduga Disambar Sang Predator

Tim SAR Gabungan sudah memperluas areal pencarian hingga 50.000 meter persegi.

Tayang:
Editor: Alza
IST/Dokumantasi Basarnas
Sejumlah anggota Basarnas dan warga berupaya mencari Masari (45) yang hilang diduga karena menjadi korban serangan buaya saat hendak pulang mencari ikan di Sungai Nyire, Senin (25/3/2024). 

POSBELITUNG.CO - Masari (35) warga Dusun Serai, Desa Delas, Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan terus dicari warga dan Tim SAR Gabungan, Rabu (27/3/2024).

Dia hilang di Sungai Nyire, Desa Delas saat memancing ikan dan diduga diterkam buaya, Minggu (24/3/2024) malam.

Hingga hari ketiga, belum ada tanda-tanda Masari ditemukan.

Tim SAR Gabungan sudah memperluas areal pencarian hingga 50.000 meter persegi.

Kepala Kantor Badan Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Pangkalpinang, I Made Oka Astawa mengatakan, pencarian dilakukan sampai lima kilometer dari titik lokasi hilang.

“Untuk proses pencarian masih terus kita lakukan. Namun sampai kini hasilnya masih nihil,” kata Oka, Rabu (27/3/2024).

Petugas juga turut menerbangkan satu unit drone atau pesawat tanpa awak DJI 3 Thermal untuk mendeteksi suhu tubuh.

Drone mampu mencakup area pencarian seluas 50.000 meter persegi dalam wilayah pencarian.

Tak hanya itu, proses pencarian dilakukan secara manual menggunakan perahu warga.

Pencarian difokuskan di aliran sungai tempat korban diterkam buaya muara saat pulang bersama rekannya.

Meskipun ada kemungkinan tubuh korban dibawa buaya ke dalam sungai.

Diakuinya cukup sulit melakukan penyisiran di sungai karena area terlalu luas.

“Area pencarian juga kita perluas menjadi lima kilometer dan juga menggunakan drone,” jelas I Made Oka.

Sementara dalam proses pencarian sebagian warga ada yang nekat untuk meraba-raba dasar sungai berharap dapat menemukan korban.

Tak hanya itu, pengoperasian drone diharapkan dapat membantu kinerja Tim SAR Gabungan untuk menemukan Masari.

Dalam proses pencarian, Tim SAR Gabungan juga turut mengalami kendala.

Banyaknya tanaman bakung di lokasi titik koordinat korban terakhir berada juga menjadi kendala.

Belum lagi kawasan itu menjadi habitat buaya muara.

Tim SAR Gabungan yang dikerahkan juga kembali diperbanyak mencapai 40 orang.

Mulai dari Rescuer USS Toboali, Babinsa TNI AD, Babinkamtibmas Desa Delas, BPBD Kabupaten Bangka Selatan, Laskar Sekaban dan masyarakat.

Pihaknya terus mengupayakan pencarian terhadap Masari dengan menyusuri sungai menggunakan rubber boat dan perahu milik warga.

“Kita berharap semoga korban yang diduga hilang diterkam buaya dapat segera ditemukan,” sebutnya.

Kemarin, Selasa (26/3/2024) proses pencarian Masari terus dilakukan di Sungai Nyire, Dusun Serai, Desa Delas, Kabupaten Bangka Selatan, Bangka Belitung.

Dia diduga menjadi korban serangan buaya penghuni Sungai Nyire, Minggu (24/3/2024) malam. 

Warga sekitar mengetahui Sungai Nyire memiliki potensi ikan air tawar yang menggiurkan.

Sehingga, bagi yang hobi mancing, lokasi tersebut sangat disukai.

Begitu pula yang dilakukan Masari.

Beberapa hari sebelum kejadian nahas itu, Masari mendapat ikan sampai 60 ekor.

Kebanyakan ikan baung yang berhasil dipancing.

Lantaran hasil pancingan itulah, Masari datang lagi dengan menebar pancing tajur.

Dia bersama temannya, Paat memasang pancing tajur dan mengangkatnya jelang senja.

Hal itu diungkapkan Paat pada Plt Kades Delas Tanjaya.

Kini keganasan buaya di Sungai Nyire bukan isapan jempol.

Pada Januari 2024 lalu, Arjo (33) juga diserang buaya dan tangan kanannya putus.

Dia diterkam buaya di depan anaknya saat memancing ikan di atas perahu.

Berdasarkan keterangan Penjabat (Pj) Kepala Desa Delas, Tanjaya, peristiwa mengenaskan itu bermula pada Minggu (24/3/2024) malam, sekitar pukul pukul 18.30 WIB.

Saat itu Masari dan Paat menggunakan dua perahu, hendak pulang dari mencari ikan di Sungai Nyire.

Keduanya memutuskan pulang setelah melihat ada seekor buaya ukuran besar di dalam air di sekitar lokasi mereka memasang pancing tajur.

"Mengetahui kondisi mereka dalam bahaya, Masari yang ada di sisi kanan Sungai Nyire langsung bergegas membereskan alat pancingnya.

Begitu pula dengan Paat yang berada di sisi kiri Sungai Nyire juga melakukan hal yang sama," ujar Tanjaya kepada Bangka Pos Group, Senin (25/3/2024).

Lanjut Tanjaya, singkat cerita Masari dan Paat naik ke atas perahu masing-masing dan langsung mendayung perahu untuk kembali ke daratan.

Mereka pulang beriringan dengan jarak sekitar 10 meter.

Kata Tanjaya, Paat yang berada di bagian depan seketika kaget karena mendegar teriakan Masari yang berada di belakangnya.

"Korban sempat berteriak, Aaat...!!! Setelah dilihat ke belakang ternyata lampu belor (senter-red) korban sudah tidak ada.

Masari juga tidak ada lagi di perahunya," beber Tanjaya.

Paat pun segera menengok ke belakang dan rekannya sudah tidak ada lagi.

Di atas perahu Masari, yang tersisa hanya senter dan peralatan milik korban.

"Buaya itu memang sudah ada, sebelum kejadian korban juga sempat bilang dengan Paat.

Itu ada Abok (buaya-red). Terus mereka bergegas lari," papar Tanjaya.

Sekitar 30 menit, Paat berusaha mencari Masari di sekitar lokasi, namun tak menemukan rekannya itu.

Ia juga berteriak memanggil nama korban berulang kali, tapi tak ada tanggapan.

Menurut Tanjaya, Paat yang dalam kondisi panik kembali ke darat, kemudian melaporkan peristiwa hilangnya Masari ke masyarakat.

"Saat ini warga, TNI, anggota Polsek, Basarnas dan pemerintah desa masih berupaya melakukan pencarian. Sejauh ini memang korban belum ditemukan sejak dinyatakan hilang," ucapnya.

Tim Pencarian dan Pertolongan (SAR) terus mengoptimalkan pencarian terhadap Masari yang hilang disambar buaya saat mencari ikan.

Posbelitung.co

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved