Pesawat Lion Air Gagal Mendarat

Pesawat Lion Air Sempat Gagal Mendarat di Pangkalpinang, BMKG Sebut Jarak Pandang Kurang dari 3 Km

Menurut Kurniaji, keselamatan menjadi prioritas utama dalam dunia penerbangan, khususnya terkait pendaratan pesawat.

Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: Novita
Istimewa
Pesawat Lion Air JT 143 mendarat di Bandara Depati Amir Kota Pangkalpinang, Senin (18/11/2024). 

POSBELITUNG.CO, BANGKA -  Pesawat Lion Air bernomor penerbangan JT 143 yang bertolak dari Bandara HAS Hanandjoeddin di Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menuju Bandara Depati Amir di Pangkalpinang, terpaksa dialihkan ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang, Senin (18/11/2024), karena faktor cuaca.

Selama sekitar satu jam di Palembang, pesawat tersebut akhirnya kembali terbang menuju Bandara Depati Amir Pangkalpinang pada pukul 13.10 WIB.

Pesawat tersebut akhirnya berhasil mendarat di Bandara Depati Amir Pangkalpinang.

Keputusan untuk mengalihkan pendaratan pesawat Lion Air JT 143 dari Bandara Depati Amir Pangkalpinang ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang pada Senin (18/11/2024) itu, mendapat perhatian khusus dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Pangkalpinang, Kurniaji, menjelaskan bahwa cuaca buruk menjadi faktor utama dalam keputusan ini. 

Menurut laporan BMKG, pada pukul 11.00 WIB, kondisi cuaca di Bandara Depati Amir dilaporkan hujan ringan hingga sedang dengan jarak pandang hanya sekitar 3 kilometer.

"Kondisi ini mungkin menjadi pertimbangan pilot Lion Air untuk tidak mendarat di Pangkalpinang dan mengalihkan pendaratan ke Palembang. Selain jarak pandang yang terbatas, kecepatan angin di Bandara Depati Amir pada pukul 10.30 hingga 11.00 WIB tercatat cukup rendah, hanya sekitar 2-3 knot (4-6 km/jam)," jelas Kurniaji, Senin (18/11/2024).

Menurut Kurniaji, keselamatan menjadi prioritas utama dalam dunia penerbangan, khususnya terkait pendaratan pesawat. 

"Jika pilot menggunakan metode jarak pandang visual (VFR), maka standar jarak pandang minimum yang dianjurkan adalah 5.000 meter. Pilot tetap dapat melakukan pendaratan dengan jarak pandang kurang dari 5 kilometer, tetapi harus didukung oleh alat bantu pendaratan di bandara serta fasilitas navigasi pada pesawat yang memadai," tuturnya.

Namun, dengan jarak pandang kurang dari 3 kilometer yang terjadi pada waktu tersebut, situasi tersebut jelas tidak aman untuk pendaratan.

"Kita yang berada di daratan tidak bisa merasakan apa yang dilihat dan dirasakan oleh pilot ketika hendak mendarat. Namun, dalam kondisi seperti ini, keputusan untuk mengalihkan pendaratan adalah langkah yang tepat," tambahnya.

Kurniaji menyebutkan bahwa pada pukul 12.00 WIB, kondisi cuaca di Bandara Depati Amir mulai membaik, dengan jarak pandang meningkat menjadi 6 kilometer, yang relatif lebih aman untuk pendaratan. 

BMKG juga memberikan peringatan bahwa potensi cuaca kurang kondusif di wilayah Pangkalpinang dan sekitarnya masih cukup besar dalam beberapa hari ke depan. 

"Hujan ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi terutama pada siang hingga sore hari," kata Kurniaji.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

Sumber: Bangka Pos
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved