Mutiara Ramadhan
Dari Tahmid ke Syukur
Tahmid ialah ungkapan spontanitas seseorang yang baru saja merasakan nikmat dan karunia Allah SWT dengan mengucapkan kata Alhamdulillah.
Demikian juga Nabi Sulaiman AS yang bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepadanya sehingga ia disebut juga sebagai hamba yang sebaik-baiknya.
Hal ini disebabkan karena keduanya konsentrasi pada pemberi nikmat dan bukan pada musibah dan nikmat itu, sehingga dengan demikian keduanya tidak merasakan sama sekali rasa sakit dan nyaman.
Syukur ada tiga macam. Syukur dengan lisan, inilah yang populer, syukur dengan hati, yaitu menyadari sepenuhnya atas segala apa yang saksikan di bumi yang luas dan tetap konsisten menjaga kehormatan, serta syukur dengan aktualisasi diri.
Syukur kedua mata, adalah menahan dan menghindari dari segala yang diharamkan Allah SWT atas keduanya dan dari segala aib orang.
Syukur kedua telinga, adalah menyumbat keduanya dari segala aib orang dan yang tidak halal didengarnya.
Syukur kedua tangan, adalah menahan untuk tidak mengambil hak orang lain.
Syukur kedua kaki, adalah tidak menjalankannya pada arah yang menuju kemaksiatan.
Abu Utsman al-Maghribî mengatakan, syukurnya masyarakat awam adalah terhadap makanan dan minuman dan sejenisnya, dan syukurnya kaum khawash adalah mendatangkan dalam hatinya makna keTuhanan (Rabbaniyyah).
Harapan kita, tentu ingin meningkatkan kualitas kesyukuran kita, tidak hanya sekedar mengucap tahmid dan pujian kepada Allah SWT, tetapi bagaimana mengaktualkan rasa syukur kita sehingga, selain kita memperoleh kepuasan batin kita juga menjadi rahmat bagi semesta alam.
Itulah wujud pribadi yang bersyukur. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/Mutiara-Ramadhan.jpg)