Berita Belitung

Kisah Haru Perjalanan Nek Mutia Asal Belitung ke Baitullah, Naik Haji dari Hasil Berdagang Keliling

Mutia Abubakar, perempuan berusia 79 tahun, berdiri di antara ratusan calon jemaah haji Belitung yang mengikuti acara pelepasan di Gedung Serbaguna.

|
Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Novita
Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari
PELEPASAN CALHAJ BELITUNG - Nek Mutia bersama rombongan jemaah calon haji asal Kabupaten Belitung saat pelepasan di Gedung Ishak Zainuddin, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (8/5/2025). 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG -  Langkahnya kecil, tubuhnya mungil, tapi semangatnya jauh lebih besar dari usianya.

Mutia Abubakar, perempuan berusia 79 tahun, berdiri di antara puluhan calon jemaah haji yang mengikuti acara pelepasan di Gedung Serbaguna Ishak Zainuddin, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (8/5/2025).

Ia tampak tenang, sesekali tersenyum, seolah menahan haru akan perjalanan panjang yang telah ia tempuh demi satu cita-cita, berangkat ke tanah suci.

Selama bertahun-tahun, Nenek Mutia menjajakan gorengan dan kopi saset di sekitar Pelabuhan Tanjungpandan.

NEK MUTIA - Nek Mutia sehari-hari saat berjualan keliling di Pelabuhan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
NEK MUTIA - Nek Mutia sehari-hari saat berjualan keliling di Pelabuhan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. (IST/Dokumentasi Ketua Rombongan Calhaj Belitung)

Setiap hari ia mengayuh sepedanya, menyusuri jalanan yang ia kenal baik, menjemput rezeki dengan tangan terbuka dan hati penuh harap.

“Dari hasil jualan itulah nenek kumpulkan sedikit demi sedikit. Nenek ikut arisan, kalau dapat narik, ditabung, karena memang sudah diniatkan untuk haji,” tutur Nek Mutia.

Bukan perkara mudah menabung dari dagangan kecil. Namun tekad Nek Mutia tak pernah goyah. 

Tahun 2012 ia sempat berumrah. Sisa uangnya Rp25 juta langsung ia setorkan untuk daftar haji tahun berikutnya.

Sejak itu, ia menanti. Dua belas tahun bukan waktu yang sebentar.

Tapi dalam penantian itu, ia tak berhenti berikhtiar dan berdoa.

Sebagai janda dengan empat anak, hidup tentu tak mudah.

Namun dukungan keluarga terus mengalir.

Menantu dan cucunya turut membantu mengurus administrasi dan pelunasan.

Menunggu selama 12 tahun bukan waktu yang sebentar.

Warga Kelurahan Parit, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung ini terus menjalani hari-harinya dengan sabar.

Sumber: Pos Belitung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved