Iran Vs Israel

UPDATE Iran vs Israel Sikap Trump Berubah Drastis Soal Iran, dari Diplomasi ke Ancaman Serangan

"Saya tidak ingin Israel ikut campur karena itu akan menghancurkan perundingan nuklir yang sedang dilakukan Iran dengan AS," ujarnya.

Editor: Teddy Malaka
Instagram @realdonaldtrump
Donald Trump 

POSBELITUNG.CO - residen Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan dunia setelah mengubah sikapnya secara drastis terhadap Iran hanya dalam hitungan jam, dari menyerukan diplomasi menjadi mendukung aksi militer.

Sebelum serangan besar terhadap Iran terjadi, Trump menyampaikan kepada wartawan bahwa ia menentang keterlibatan Israel dalam konflik karena dapat menggagalkan negosiasi nuklir yang sedang berlangsung.

"Saya tidak ingin Israel ikut campur karena itu akan menghancurkan perundingan nuklir yang sedang dilakukan Iran dengan AS," ujarnya.

Namun hanya beberapa jam kemudian, Trump mengubah nada bicaranya secara tajam.

Ia menyebut serangan itu sebagai sesuatu yang “sangat bagus”, lalu melemparkan kesalahan kepada Iran karena, menurutnya, negara tersebut telah menolak tawaran kesepakatan dari AS. 

“Serangan itu terjadi karena Iran tidak menerima kesepakatan kami untuk menghentikan pengayaan uranium sepenuhnya,” ungkapnya.

Lewat platform Truth Social, Trump pun mengeluarkan peringatan keras. Ia menegaskan bahwa serangan lanjutan yang “lebih brutal” kemungkinan akan terjadi dan menyarankan Iran agar segera kembali ke meja perundingan.

“Inilah saatnya bagi Iran untuk kembali membuat kesepakatan,” tulisnya.

Perubahan sikap ini mencerminkan tekanan politik internal yang dihadapi Trump dari dua kubu dalam Partai Republik: satu pihak mendorongnya menjadi pemimpin yang fokus pada diplomasi dan perdamaian, sesuai dengan janjinya saat pidato pelantikan; pihak lain justru mendorong keterlibatan militer langsung, termasuk aksi pengeboman terhadap Iran.

“Sikap Trump tampaknya tergantung pada pihak mana yang paling berpengaruh baginya saat itu,” komentar seorang analis kebijakan luar negeri.

Shahram Akbarzadeh, Direktur Forum Studi Timur Tengah di Institut Alfred Deakin, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap eskalasi konflik ini.

“Saya yakin akan ada lebih banyak serangan yang akan datang karena Israel dan Iran kini beradaptasi untuk jangka panjang,” katanya kepada Al Jazeera.

Akbarzadeh juga menyoroti potensi keterlibatan langsung Amerika Serikat.

“Israel sebenarnya mengandalkan dinamika ini bahwa begitu konflik dimulai, AS memiliki kewajiban dan komitmen terhadap keamanan Israel. Jadi AS akan terseret ke dalam konflik tersebut,” tambahnya.

Ketidakpastian sikap Trump dalam menyikapi konflik Timur Tengah ini menciptakan ketegangan tambahan di tengah situasi global yang sudah rapuh. Banyak pihak kini mempertanyakan arah kebijakan luar negeri AS ke depan, apakah akan tetap berfokus pada diplomasi atau justru kembali ke jalur militer. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved