Konflik Israel dan Palestina
VIDEO Delegasi Israel ke Doha Bahas Gencatan Senjata Gaza, Hamas Siap Bebaskan Sandera?
Delegasi Israrel kunjungi Doha bertujuan melanjutkan negosiasi tidak langsung dengan Hamas
Penulis: Lisa Lestari | Editor: Teddy Malaka
POSBELITUNG.CO - Delegasi Israel yang terdiri dari Koordinator Pemerintah untuk Tahanan Gal Hirsh, Penasihat Politik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu Ofer Falk, serta perwakilan dari Mossad dan Shin Bet telah berangkat menuju Doha, Qatar pada Minggu (6/7/2025).
Kedatangan mereka bertujuan melanjutkan negosiasi tidak langsung dengan Hamas terkait perjanjian gencatan senjata di Gaza dan kesepakatan pertukaran tahanan.
Kunjungan ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua belah pihak.
Sejak dimulainya pembicaraan, mediator utama seperti Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat berupaya keras menengahi untuk mencapai kesepakatan yang dapat meredam konflik berkepanjangan selama lebih dari dua tahun terakhir.
Pada Jumat (4/7/2025), Hamas menyatakan telah memberikan tanggapan “positif” atas proposal gencatan senjata dan pertukaran tahanan yang diajukan mediator.
Rencana tersebut mencakup pembebasan sandera Israel secara bertahap, dengan sebagian besar dibebaskan dalam lima tahap selama 60 hari.
Namun, Israel menanggapi usulan Hamas dengan tegas.
Kantor Perdana Menteri Netanyahu menyatakan bahwa beberapa amandemen yang diajukan Hamas tidak dapat diterima.
Persyaratan Hamas, seperti pelibatan PBB dalam distribusi bantuan kemanusiaan dan penarikan pasukan Israel ke posisi sebelum gencatan senjata bulan Maret, ditolak mentah-mentah.
Salah satu poin yang belum disepakati adalah siapa yang akan menentukan nama sandera yang akan dibebaskan, sebagaimana dilaporkan The Times of Israel.
Selain itu, Israel menuntut Hamas untuk melucuti senjata dan mengasingkan para pemimpinnya, syarat yang ditolak oleh Hamas.
Israel juga meminta adanya jaminan bahwa gencatan senjata 60 hari tidak akan berujung pada kembalinya aksi kekerasan.
Delegasi Israel berangkat ke Doha dengan misi untuk memperkecil perbedaan sikap dan mencapai kesepakatan yang dapat menjamin keamanan Israel dalam jangka panjang.
Namun, dengan banyaknya poin yang ditolak Hamas, perundingan ini diprediksi akan berlangsung dalam suasana yang menegangkan.
Di sisi lain, Perdana Menteri Netanyahu dijadwalkan bertemu Presiden AS Donald Trump di Washington pada Senin (7/7/2025).