Berita Belitung

Bermodal Hasil Jualan Pinggir Jalan, Pasangan Ini Bikin Rumah Terapi Anak-anak Spesial di Belitung

Setelah tujuh tahun, bersama suaminya, Fefi mendirikan rumah terapi bagi anak-anak autis, down syndrom, speech delay, dan retardasi mental.

Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Novita
Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari
Hasil karya anak-anak spesial yang belajar di Belitung Child Development (BCD). 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Belitung Child Development (BCD) menjadi rumah terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Mengulik lebih jauh, rumah terapi ini ternyata ada kisah menarik dari inisiatornya, Hermanto dan Fefi Nuryanti.

Fefi yang menjadi penanggung jawab BCD merupakan lulusan pendidikan luar biasa tuna rungu dari Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung.

Sempat 12 tahun bekerja dan belajar dengan dokter syaraf anak, menjadi bekalnya di dunia tumbuh kembang anak-anak spesial.

Hermanto yang menjadi Ketua Yayasan Nawasena Bestari Nusantara yang menaungi BCD, rupanya mengalami kelainan belajar dengan disleksia, yaitu diskalkulia.

Diskalkulia ini menyebabkan kesulitan memahami dan mempelajari konsep-konsep matematika dasar.

Pada 2015, Fefi menjadi terapis anak-anak berkebutuhan khusus dengan datang dari rumah ke rumah.

Setelah tujuh tahun, bersama suaminya, Fefi mendirikan rumah terapi bagi anak-anak autis, down syndrom, speech delay, dan retardasi mental.

Hermanto (baju kotak-kotak) dan Fepi (baju pink) saat berfoto bersama terapis BCD dan anak-anak beberapa waktu lalu.
Hermanto (baju kotak-kotak) dan Fepi (baju pink) saat berfoto bersama terapis BCD dan anak-anak beberapa waktu lalu. (IST/Dokumentasi BCD)

"Makin lama makin banyak, 2022 baru bikin BCD, ini tahun kedua. Dulu individual, karena semakin banyak yang mau, akhirnya kita bikin rumah terapi ini," kata Fefi kepada Posbelitung.co, Jumat (23/2/2024).

Baca juga: Anak-anak Spesial Belitung Punya Ruang Belajar Khusus di Belitung Child Development

Modal mengontrak rumah terapi yang berada di Gang Arisan, Kelurahan Parit, Kecamatan Tanjungpandan ini, berasal dari menyisihkan hasil jualan pinggir jalan jajanan Korea dan patungan orang tua anak-anak yang belajar di sana.

Meski di tengah keterbatasan, BCD bisa hadir untuk membantu lebih banyak orang tua agar anak-anak spesial memiliki kesempatan untuk belajar mandiri dan bisa berinteraksi.

Kini rumah terapi ini memiliki lima orang terapis yang memiliki latar belakang pendidikan SMA dan sarjana berbagai jurusan.

Kata Hermanto, memang terutama yang dibutuhkan orang-orang yang bekerja dengan hati.

Karena mengurus anak-anak spesial tidak mudah, sehingga memerlukan kesabaran karena tak jarang anak-anak autisme mengalami tantrum.

"Yang penting melayani dengan hati karena pekerjaan mengandalkan tenaga, harus ada rasa kasih sayang, perhatian ke anak-anak," tuturnya.

Sumber: Pos Belitung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved