Kabar Pangkalpinang

Desa Burung Mandi Jadi Desa EKI, Program Kolaborasi OJK dengan TPAKD Bangka Belitung

Desa Burung Mandi Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan menjadi Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI).

Penulis: Rusaidah | Editor: Teddy Malaka
Posbelitung.co/Novita
Kepala OJK Sumsel Babel Arifin Susanto saat Media Update, Journalist Class dan Media Gathering OJK Sumsel Babel di Griya Persada Hotel & Convention Yogyakarta, Selasa (9/7). 

POSBELITUNG.CO - Desa Burung Mandi Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan menjadi Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI).

Dipilihnya Desa Burung Mandi menjadi Desa EKI merupakan bagian dari program kolaborasi Otoritas Jasa Keuangan Provini Sumatera Selatan-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (OJK Sumsel Babel) dengan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Provinsi Babel.

Hal itu dikatakan oleh Kepala OJK Sumsel Babel Arifin Susanto saat Media Update, Journalist Class dan Media Gathering OJK Sumsel Babel di Yogyakarta, Selasa (9/7) malam.

Melalui program Desa EKI diharapkan dapat mempercepat pengembangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
Program Desa EKI akan mengoptimalkan potensi yang ada di pedesaan yaitu potensi alam, budaya, sosial dan finansial dengan ketersediaan akses keuangan dari berbagai sektor jasa keuangan seperti perbankan, asuransi dan pasar modal.

Saat ditemui kembali pada Rabu (10/7), Arifin menjelaskan tentang latar belakang program Desa EKI.

Ia mengemukakan, banyak penelitian menyebutkan bahwa jika masyarakat di sebuah lokasi mempunyai kemampuan finansial dan literasi keuangan yang bagus, maka niscaya perekonomiannya juga akan bertumbuh dan berkembang atau bagus.

Berdasarkan pertimbangan itu, pihaknya akan mendorong berbagai pihak untuk memperluas akses keuangan kepada nasabahnya. OJK, lanjutnya, ingin menyosialisasikan kepada lembaga penyelenggara jasa keuangan baik perbankan, termasuk penyelenggara asuransi dan sebagainya, untuk bersama-sama meningkatkan melek literaai dan inklusi keuangan.

Memang, kata Arifin, saat ini penggunaan rekening bank, ATM, dan QRIS sudah bagus. Akan tetapi sifatnya baru utilisasi.
"Tetapi untuk literisasi dan inklusi itu masih perlu peningkatan yang lebih bagus lagi. Karena kalau enggak melek, enggak paham tentang literasi keuangan, mudah terjebak pada pinjaman online ilegal, tentang investasi yang ilegal, mereka tidak paham bentuknya apa, haknya apa, kewajibannya apa dan sebagainya," tuturnya.

Cara yang lain, lanjutnya, adalah bagaimana membangun masyarakat pedesaan. Makanya yang dituju OJK adalah pedesaan.

"Kalau perkotaan, mungkin probability untuk paham literasi dan inklusi keuangannya cukup bagus. Tapi kalau di pedesaan itu banyak yang kurang paham cara menggunakan uang, cara menyikapi uang dengan baik, cara memperoleh uang dengam bagus, misalnya butuh, boleh butuh boleh pinjam tapi dicek dulu ilegal atau legal," kata Arifin.

"Dengan ekosistem tadi kita buat semuanya terintegrasi. Jadi Desa Ekosistem Inklusi itu intinya mengorkestra apa potensi di situ. Katakanlah (misalnya) potensi wisatanya bagus, apa kulinernya, ayo kita jual, kita selaraskan dengan yang lain," imbuhnya. (vid/posbelitung.co)

 

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved