Pos Belitung Hari Ini
Program Gentengisasi Mempertahankan Budaya Lokal, Bahan Awet dan Bertahan Lebih Lama
Program gentengisasi diharapkan dapat menghidupkan kembali penggunaan genteng lokal, menjaga ciri khas budaya, sekaligus menghadirkan hunian
Program gentengisasi diharapkan dapat menghidupkan kembali penggunaan genteng lokal, menjaga ciri khas budaya, sekaligus menghadirkan hunian yang lebih sejuk dan nyaman di tengah modernisasi. (t2/riu)
Representasi Budaya Bangka
DI tengah wacana nasional program gentengisasi yang kembali mengemuka sebagai solusi hunian layak rakyat di era Presiden Prabowo Subianto, Bangka Belitung menyimpan sejarah panjang penggunaan genteng tanah liat yang melampaui fungsi teknis.
Bagi masyarakat lokal, genteng bukan sekadar penutup atap, tetapi simbol kearifan lokal, nilai budaya, dan filosofi hidup yang melekat pada kehidupan sehari-hari.
Budayawan Kepulauan Bangka Belitung, Dato Akhmad Elvian, menyebut arsitektur tradisional Bangka lahir dari adaptasi panjang terhadap lingkungan tropis yang lembap dan curah hujan tinggi.
“Arsitektur vernakular Bangka adalah hasil pemikiran adaptif terhadap tantangan alam. Dari atap, kita mengenal istilah bubung, yang bermakna menyambung satu atap dengan atap lain hingga membentuk kampung,” ujar Elvian kepada Bangka Pos, Senin (9/2).
Di bawah bubung itu, kehidupan sosial terjalin. Atap bukan sekadar pelindung panas dan hujan, tetapi simbol keterhubungan antarrumah, antarkeluarga, bahkan antara manusia dan Sang Pencipta. Dalam konstruksi tradisional, elemen seperti alang dan tiang arsy merepresentasikan relasi vertikal spiritual dalam struktur bangunan masyarakat Bangka.
Sebelum tanah liat dijadikan genteng terakota, masyarakat Bangka menggunakan daun, ilalang, ijuk, hingga kulit kayu sebagai penutup rumah. Seiring berkembangnya teknik, tanah liat yang melimpah di pulau ini diolah menjadi genteng tahan panas sekaligus hujan tropis.
“Tanah liat tersedia melimpah di Bangka. Genteng terakota cocok untuk iklim tropis basah, meredam panas sekaligus tahan hujan tinggi,” jelas Elvian.
Genteng itu kemudian berkembang menjadi bentuk khas yang dikenal sebagai genteng laki-bini. Bentuknya berbeda, namun dipasang berpasangan, saling mengunci dan menutup celah. Sistem interlocking ini bukan hanya teknik konstruksi, tetapi sarat makna budaya.
“Genteng laki-bini adalah simbol kesetaraan gender. Bentuknya berbeda, tetapi saling melengkapi dan menutupi. Seperti peran suami dan istri dalam rumah tangga,” kata Elvian. Ia menambahkan, “Ketika laki dan bini menyatu, atap menjadi kuat. Itu metafora rumah tangga orang Bangka.”
Filosofi itu terasa nyata ketika memandang atap rumah-rumah lama di Bangka, seperti bangunan beratap merah tua yang masih bertahan di tengah kepungan arsitektur modern. Genteng-genteng itu mungkin tak lagi mengilap, tetapi susunannya tetap rapi, menjadi saksi bisu peralihan zaman dari rumah panggung kayu hingga bangunan kolonial peninggalan Gemeente. (t2)
| Kondisi Korban Perundungan di Pesantren Bangka Membaik, Hasil CT Scan Ditemukan Luka pada Limpa |
|
|---|
| Santri Ponpes di Bangka Dianiaya Senior hingga Alami Sesak Nafas Baru Dibawa ke Rumah Sakit |
|
|---|
| Kades Jada Bahrin Menyerah, Tak Sunggup Tertibkan 500 Tambang Ilegal Pilih Mundur dari Jabatan |
|
|---|
| Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Menumbing 2026, Personel Diminta Sigap Amankan Mudik |
|
|---|
| Stok BBM dan LPG di Bangka Belitung hingga Lebaran Aman, Masyarakat Diminta Jangan Panik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/Posbelitung-Cetak-Kamis-12-Februari-2026.jpg)