Berita Belitung
Harga Emas dan Cumi Penyumbang Inflasi 2,25 persen di Belitung Timur
Statistisi Ahli Madya BPS Beltim, Fetia Nursih Widiastuti, mengatakan bahwa emas perhiasan menjadi komoditas paling dominan dalam kenaikan
Penulis: Kautsar Fakhri Nugraha | Editor: Hendra
POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Deretan grafik fluktuasi harga yang menanjak terpampang di layar proyektor Ruang Pertemuan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Belitung Timur, Rabu (1/4/2026).
Di bawah lampu ruang rapat, para pejabat daerah dan jajaran statistisi berkumpul untuk membedah data Indeks Harga Konsumen (IHK) yang menjadi rapor ekonomi daerah di tengah bulan Ramadan 1447 Hijriah lalu.
Dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS) tersebut, terungkap Kabupaten Belitung Timur mencatatkan inflasi tahunan (year on year) sebesar 2,25 persen. Kenaikan IHK yang kini menyentuh angka 107,56 ini dipicu oleh satu komoditas utama yang sulit dikendalikan secara lokal, yaitu emas.
Statistisi Ahli Madya BPS Beltim, Fetia Nursih Widiastuti, mengatakan bahwa emas perhiasan menjadi komoditas paling dominan dalam kenaikan harga kali ini. Fenomena global ternyata berdampak langsung hingga ke pasar-pasar tradisional Belitung Timur.
"Emas perhiasan memberikan andil sebesar 0,98 persen dari total inflasi. Hampir satu persen, ini cukup dominan," ujarnya.
Ketergantungan pada harga emas dunia ini membuat pemerintah daerah berada dalam posisi sulit. Mengingat emas masuk dalam kategori komoditas yang dipengaruhi pasar internasional, pemerintah daerah praktis tidak bisa melakukan intervensi harga secara langsung.
“Emas itu masuk inflasi inti dan dipengaruhi kondisi dunia, sehingga tidak bisa dikendalikan di daerah,” ucap Fetia.
Selain emas, kelompok makanan, minuman, serta tembakau juga menjadi penyumbang inflasi yang cukup signifikan, yakni sebesar 1,47 persen.
Pemerintah Kabupaten Belitung Timur melalui Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Bayu Priyambodo, memberikan catatan khusus mengenai harga pangan di lapangan. Dalam sambutan bupati yang dibacakannya, Bayu menyoroti harga komoditas laut yang meroket tajam di luar perkiraan.
“Kenaikan harga terjadi pada sekitar 40 persen komoditas. Salah satu yang paling terasa dampaknya adalah harga cumi yang sempat menyentuh Rp150.000 per kilogram,” ungkap Bayu.
Tingginya harga cumi ini menjadi gambaran bagaimana daya beli masyarakat sedang diuji di tengah tekanan inflasi. Bayu mengatakan kondisi ini memerlukan langkah pengendalian inflasi yang terukur, terkoordinasi, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Menghadapi bulan April, sejumlah faktor risiko, termasuk potensi fluktuasi harga emas, diprediksi masih akan berlanjut. Selain itu, kemungkinan adanya penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) juga menjadi variabel yang terus dipantau oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
"Pemkab Beltim bersama TPID akan terus memperkuat strategi pengendalian, mulai dari pemantauan harga hingga menjaga kelancaran distribusi," ujar Bayu.
Pemkab Beltim juga akan terus berkomunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan ketersediaan bahan pokok tetap aman. Langkah ini bertujuan untuk mengantisipasi berbagai potensi gejolak harga yang dapat terjadi pasca Ramadan.
(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)
| PT Usaha Mandiri Persada Salurkan Program PPM untuk Pendidikan dan UMKM di Mentigi |
|
|---|
| Polres Belitung Gelar Sertijab Kasat Reskrim hingga Pelantikan Kapolsek Badau |
|
|---|
| Identifikasi Truk Berbasis Kartu Tunggal, Pelindo Tanjungpandan Implementasi STID dan Simon TKBM |
|
|---|
| Bapas Kelas II Tanjungpandan Gandeng Sejumlah Mitra Perkuat Pembimbingan Klien Pemasyarakatan |
|
|---|
| DPPKBPMD Belitung Monitoring Pemutakhiran Data Pemilih Pilkades Serentak 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/Inflasi-Belitung-Timur-Rilis-BPS-Maret.jpg)