Rupiah Masuk Daftar Mata Uang Terlemah Versi Forbes, Ini Penjelasan Ekonom
Rupiah masuk daftar 5 mata uang terlemah versi Forbes 2026. Ekonom menilai pemeringkatan ini hanya berdasarkan nominal
Penulis: M Zulkodri | Editor: M Zulkodri
Ringkasan Berita:
- Rupiah menempati posisi kelima mata uang terlemah versi Forbes dengan kurs Rp17.066 per dolar AS.
- Namun, ekonom menilai penilaian ini menyesatkan karena hanya berbasis nominal, sementara fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat.
POSBELITUNG.CO--Rupiah menjadi sorotan setelah masuk dalam daftar 10 mata uang terlemah di dunia versi Forbes per 7 April 2026. Berdasarkan data nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat (AS), mata uang Indonesia itu menempati posisi kelima dengan kisaran Rp17.066 per dolar AS.
Daftar tersebut disusun dengan pendekatan nominal, yakni menghitung berapa banyak unit mata uang yang setara dengan 1 dolar AS.
Peringkat disusun berdasarkan nilai tukar terhadap dollar Amerika Serikat (AS), yaitu jumlah unit mata uang untuk setara 1 dollar AS.
Pendekatan ini menempatkan rupiah di posisi kelima. Nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 17.066 per dollar AS.
Posisi pertama ditempati rial Iran dengan kurs sekitar 1 dollar AS setara 1.315.800 rial. Posisi kedua dan ketiga diisi pound Lebanon dan dong Vietnam.
Nilai tukarnya masing-masing sekitar 89.565,64 pound Lebanon dan 26.336,58 dong Vietnam per dollar AS.
Posisi keempat ditempati kip Laos dengan nilai tukar 22.065,41 per dollar AS.
"Dalam hal PDB, negara ini (Indonesia) merupakan yang terbesar di Asia Tenggara terutama berkat sektor jasanya. Indonesia juga kaya akan komoditas, tetapi mata uang nasionalnya telah merosot dibandingkan dengan negara lain karena kombinasi inflasi tinggi dan kekhawatiran resesi," tulis Forbes, Selasa (7/4/2026).
Peringkat berikutnya diisi som Uzbekistan, franc Guinea, franc Burundi, ariary Madagaskar, dan guarani Paraguay.
Namun, daftar tersebut dinilai tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pemeringkatan tersebut hanya benar dalam konteks terbatas.
"Menurut saya, pernyataan Forbes itu benar hanya dalam arti yang sangat sempit, yaitu dari sisi nominal kurs per 1 dollar AS, bukan dari sisi kekuatan fundamental mata uang," ujarnya kepada Kompas.com, Sabtu (18/4/3026).
Ia menjelaskan, mata uang dengan denominasi besar seperti rupiah memang cenderung terlihat lemah jika dilihat dari nilai nominal.
Padahal, jika dilihat dari kinerja dan fundamental ekonomi, kondisi rupiah dinilai masih cukup stabil.
“Jadi secara nominal rupiah termasuk mata uang berdenominasi besar, tetapi secara kinerja dan fundamental, kesimpulan Forbes sangat menyesatkan bila dibaca tanpa konteks,” tegasnya.
| Biodata Samin Tan, Dulu Masuk Orang Terkaya Versi Forbes Kini Jadi Tersangka Korupsi |
|
|---|
| 10 Negara dengan Lanskap Alam Terindah 2026, Indonesia Masuk Daftar Forbes |
|
|---|
| Daftar Orang Terkaya di Asia Akhir 2025, Mukesh Ambani Masih Teratas, Indonesia di Papan Tengah |
|
|---|
| Bukan 9 Naga, Inilah Prajogo Pangestu Orang Terkaya Indonesia dan Asia Tenggara |
|
|---|
| Sosok Nancy Prajogo, Anak Prajogo Pangestu Orang Terkaya di Asia Tenggara, Dikenal Low Profile |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/ilustrasi-rupiah-dan-dollar-as.jpg)