Video

Populasi Tarsius dan Lutung Putih Masih Lestari di Desa Lintang Belitung Timur

Pembukaan lahan, perkebunan, hingga tambang menjadi ancaman nyata bagi ruang hidup Tarsius dan Lutung Putih.

Penulis: Ilham Pratama | Editor: Kamri

POSBELITUNG.CO - Populasi Tarsius dan Lutung Putih di Desa Lintang, Kecamatan Simpang Renggiang, Kabupaten Belitung Timur, masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang cukup baik.

Hal ini diungkapkan oleh Yayasan Tarsius Center Indonesia (TCI) yang menemukan keberadaan kedua satwa dilindungi tersebut di kawasan hutan desa setempat.

Namun, di balik kabar menggembirakan itu, tersimpan kekhawatiran akan kelangsungan habitat mereka yang semakin terdesak akibat aktivitas manusia.

Pembukaan lahan, perkebunan, hingga tambang disebut menjadi ancaman nyata bagi ruang hidup Tarsius dan Lutung Putih.

“Dalam waktu sepuluh menit masuk ke hutan saja, kita sudah bisa melihat Tarsius.

Tapi tekanan manusia membuat habitatnya makin sempit,” ujar Ade Afrilian Saputra, Project Manager Program Solusi, dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Rencana Pengelolaan Tarsius dan Lutung Putih, Selasa (21/10/2025).

Dari hasil pengamatan, tim TCI menemukan satu kelompok Lutung Putih dengan jumlah individu berwarna putih yang tidak biasa, yakni 9 ekor dari total 23.

Temuan ini dianggap spesial karena di wilayah lain, populasi lutung berwarna putih umumnya sangat sedikit.

Menurut Ade, konservasi tidak hanya tentang menyelamatkan satwa langka, tetapi juga bagaimana melibatkan masyarakat agar turut merasakan manfaat dari kelestarian hutan.

“Ekowisata bisa menjadi jembatan antara pelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Baca juga: 600 Warga Belitung dan Beltim Masuk Data Calon Penerima Bantuan Pasang Baru Listrik

Melalui kegiatan FGD ini, para pihak berharap lahir strategi pengelolaan yang berpihak pada manusia sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.

Yayasan TCI menegaskan, keberlanjutan hutan Desa Lintang merupakan kunci agar suara Tarsius tetap terdengar dan Lutung Putih terus menari di antara pepohonan.

Kegiatan FGD ini digelar di Guest Hotel Manggar, menghadirkan perwakilan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi lingkungan, dan instansi terkait.

Fokusnya untuk mengumpulkan masukan lintas sektor demi mewujudkan pengelolaan habitat yang berkelanjutan.

Program ini menjadi bagian dari Program Solusi (Pengelolaan Lanskap Darat dan Laut Terpadu di Indonesia), kerja sama antara Pemerintah Indonesia melalui Bappenas dan Pemerintah Jerman lewat BMUV.

Sumber: Pos Belitung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved