Kisah Mantan Pembantu yang Jadi Penasihat Presiden Obama

Perempuan asal Malang Jawa Timur, Imamatul Maisaroh (34), menjadi kepercayaan Gedung Putih Amerika Serikat (AS) sejak 2015.

Istimewa
Imamatul Maisaroh (kanan) dipeluk Presiden AS Barack Obama dalam sebuah kesempatan beberapa waktu lalu. 

Pada 1997 itu, dalam usia 16 tahun saat masih duduk di kelas 1 SMA Khairuddin, Pagelaran, Ima hendak dinikahkan dengan pria yang jauh lebih tua.

"Dulu saya berhenti sekolah karena mau dikawinkan dengan orang yang gak saya kenal, dan umurnya 12 tahun lebih tua," kata Ima.

Namun penolakan Ima gagal. Sempat kabur, tetapi orangtua akhirnya menemukan dan tetap menikahkannya, walaupun kemudian perkawinannya tak berlangsung lama.

"Rumah tangga gak bahagia karena gak cinta. Saya kabur dari rumah tapi orangtua temukan saya. Tapi, akhirnya saya pisah dengan suami. Habis itu, saya merasa malu sehingga pingin pergi jauh dari kampung," kisahnya.

Menurut Turiyo (54), ayahanda Ima, ia dan istrinya Alima (50) sempat tak tahu bahwa Ima telah kabur dari rumah.

“Kami tidak tahu. Tapi kemudian ada yang bilang, dia ikut juragan yang juga tetangga kami untuk dikirim jadi pekerja di Hongkong,” tutur Turiyo ketika ditemui Tribun Network kemarin di rumahnya di Desa Kanigoro, Dusun Krajan, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang.

Ternyata Ima lebih tertarik untuk bekerja di Amerika.

Menurut Turiyo, dirinya sempat diminta untuk membayar ganti rugi Rp 600 ribu kepada juragan itu, karena Ima tidak jadi bekerja ke Hongkong.

"Saya ikut latihan kerja di Malang, dan majikan pemilik pelatihan itu punya saudara sepupu di AS. Saudaranya ini perlu pembantu, saya ditawari. Saya senang sekali. Gajinya kala itu 150 dolar AS (sekitar Rp 2,1 juta)," tutur Ima saat berbincang dengan Tribun Network melalui messenger kemarin.

Singkat cerita, pada tahun 1997 Ima akhirnya sampai di Bandara LAX Los Angeles, AS.

Selama ikut majikannya, paspor Ima ditahan oleh si majikan.

Tapi, Ima enggan menyebut nama bekas majikannya itu.

Selama tiga tahun, Ima harus bekerja lebih dari 12 jam dalam sehari.

Hampir setiap hari, Ima menjalani siksaan dan pukulan dari majikannya, seorang warga keturunan yang menjadi interior designer di Amerika.

Untuk kesalahan kecil yang dibuatnya, Ima harus menerima pukulan dan tamparan berkali-kali.

Sumber: Surya
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved