LIPSUS GEOPARK

Pantai Siantu dan Open Pit Layak Geopark

Geopark tidak hanya berhubungan dengan keragaman geologi saja tetapi juga nilai nilai

Penulis: Disa Aryandi |
Pos Belitung/Disa Aryandi
Satu contoh kawasan yang diusulkan jadi kawasan wisata geopark di Kabupaten Belitung 

Laporan Wartawan Pos Belitung Disa Aryandi

POSBELITUNG.COM, BELITUNG - Kabupaten Belitung berencana mengembangkan wisata geopark. Bahkan realisasinya ditargetkan pada 2017 mendatang.

"Sekarang ini kami sudah mulai kerja sama dengan tim geopark dari pusat. Secara teknis nanti MoU (memorandum of understanding) itu sudah dimulai pergerakan. Dampaknya nanti, turis turis dari manapun akan melihat pariwisata ini dan dijadikan tempat penelitian ilmu pengetahuan," kata Bupati Belitung Sahani Saleh (Sanem) beberapa waktu lalu.

Definisi geopark menurut Unesco adalah, sebuah daerah dengan batasan yang sudah ditetapkan secara jelas dan memiliki kawasan permukaan yang cukup luas untuk pembangunan ekonomi lokal. Geopark terdiri atas sejumlah tapak keragaman geologi yang memiliki kepentingan ilmiah khusus, kelangkaan, dan keindahan, yang dikenal sebagai warisan geologi.

Geopark tidak hanya berhubungan dengan keragaman geologi saja tetapi juga nilai nilai arkeologi, ekologi, sejarah atau budaya. Keragaman geologi merupakan komponen komponen geologi yang memiliki fungsi sebagai jejak sejarah pembentukan bumi.

Di Kabupaten Belitung, warisan geologi yang dapat dikembangkan sebagai geopark adalah kawasan Pantai Siantu, Dusun Kelik, Desa Sijuk, Kecamatan Sijuk.

Bebatuan di Pantai Siantu telah diteliti Penyelidik Bumi Utama, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Oki Oktariadi pekan lalu. Batuan formasi Siantu (PCsp) itu memiliki keunikan, yaitu Lava Bantal Siantu.

Lava adalah penamaan umum bagi magma yang keluar mengalir ke permukaan. Sementara lava (pillow lava) adalah lava yang berbentuk bundar memanjang menyerupai bantal, sehingga disebut lava bantal. Secara geologi, bebatuan yang ada di Belitung satu garis dari Bima (NTB), Belitung, lalu berbelok di Kalimantan sebagai ujungnya.

"Itu umurnya antara 200 sampai 300 juta tahun lalu. Nah yang menarik di Belitung itu ada bebatuan yang ada di Siantu, yakni lava bantal. Ini adalah hasil bebatuan yang terbentuk dari hasil erupsi gunung api purba yang ada di bawah laut," kata Oki Oktariadi kepada Pos Belitung, Rabu (21/9) lalu.

Lambat laun, lanjutnya, proses pembentukan batu setelah erupsi gunung api, masuk ke perairan laut, kemudian secara proses membentuk bantal, sehingga lambat laun menciptakan tumpukan, dan terangkat ke permukaan serta tersingkap di Siantu.

"Dari seluruh bebatuan yang ada di Belitung, Siantu ini yang sangat unik dan tidak ditemukan di daerah lain. Jadi kalau mau dikembangan menjadi warisan wisata geologi, Pulau Belitung cocoknya Siantu itu," ucap penulis buku Warisan Geologi Pulau Belitung ini.

Keunikan lainnya, tambah Oki, bebatuan yang ada di Siantu. Kemas antar butir terdiri dari atas plagioklas, piroksin, dan mineral sekunder klorit, kalsit, dan lempung dengen semen serta mengandung silika dan karbon. Distribusi sebagian besar menunjukkan sepanjang arah timur barat, pada lebih dari 15 km, sedangkan distribusi utara selatan hanya mencapai 1 km.

"Keunikan yang diperlihatkan, dengan struktur lava bantalnya, menunjukkan tingkat warisan geologi berskala nasional. Lagi pula pesisir Siantu itu sangat indah, selain memiliki tebing tebing, betuannya juga berwarna warni seperti hitam, merah, dan cokelat," ucapnya.

"Di pulau lain jarang diketemukan, sangat langka sekali. Walaupun sekarang Belitung, yang jadi objek wisata batu granit, tapi itu tidak masalah, karena geopark itu punya warisan geologi," ucapnya.

Open Pit Layak

Sumber: Pos Belitung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved