Ini Kisah-kisah Permohonan Suntik Mati di Indonesia, Alasannya Bikin Haru
Pengajuan suntuk mati untuk Humaida bukan yang pertama di Indonesia? Sebelumnya ada Ny Again (Agian Isna Nauli) yang diajukan suaminya, Hasan Kusuma,
POSBELITUNG.COM - Benar kata orang, kesabaran ada batasnya.
Sudah lima tahun Humaida mengalami koma dan tak berdaya di bangsal Rumah Sakit Umum daerah Panglima Sebaya, Tana Grogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.
Yang bisa ia lakukan hanya menggerakkan matanya.
“Sinar matanya juga tidak menunjukkan komunikasi. Bola matanya hanya bisa bergerak naik atau turun,” kata Ahmad Januar As'hari, putra sulung Humaida, Rabu (26/10).
Saban hari Humaida terbaring atau didudukkan di bangsal RSUD Grogot.
Pada tubuhnya menempel selang melalui lewat hidung, tenggorokan, hingga lambung.
Tiap tiga jam sekali, ia menerima asupan cair yang dimasukkan ke lambungnya dengan cara disuntikkan melalui selang itu.
“Sehari bisa habis tujuh mangkuk makanan,” kata Januar.
Keluarga mana yang tega melihat salah satu anggotanya seperti itu setiap hari?
Terlebih, Ahmad Muntolib, suami Humaida, sudah menghabiskan hartanya untuk mengembalikan kesehatan istrinya.
Tak hanya itu, ia juga harus menungguinya, mengganti popoknya, dan memandikannya.
Anak-anaknya yang masih kecil terpaksa ia titipkan ke keluarga terdekat.
Waktu terus berjalan, Muntolib dan anak-anaknya menunggu kepastian bagaimana istrinya bisa kembali tersenyum dan hidup bahagia.
Kini mereka hidup dengan mengandalkan surat keterangan tidak mampu (SKTM).
“Biaya yang kami keluarkan bisa Rp 1 juta setiap bulannya untuk keperluan ibu kami,” kata Januar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/istri-suntik-mati_20161031_084732.jpg)