LIPUTAN KHUSUS

Petani di Belitung Dapat Bantuan Bibit Karet

Kabupaten Belitung mendapat alokasi bibit buat lahan seluas 150 hektare (ha), rinciannya, 92 ha di Kecamatan Membalong dan Badau 59 ha.

Editor: Rusmiadi
Ilustrasi 

POSBELITUNG.COM, BELITUNG -- Kelompok petani karet di Pulau Belitung mendapatkan bantuan bibit siap tanam dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Pemprov Babel).

Pada 2016, Kabupaten Belitung mendapat alokasi bibit buat lahan seluas 150 hektare (ha), rinciannya, 92 ha di Kecamatan Membalong dan Badau 59 ha.

Sedangkan di Belitung Timur, juga ada bantuan serupa namun dianggarkan oleh pemkab di APBD.

Pelaksana tugas (Plt) Kabid Perkebunan, Dinas Tanaman Pangan Holtikultura Pertanian Peternakan Kehutanan dan Ketahanan Pangan (DTPHP2KP) Kabupaten Belitung Dedi Hasnardi menjelaskan, teknis penyerahan bantuan dilakukan pemprov melalui rekanan yang telah ditunjuk.

"Jadi mulai dari pengadaan, lelang, dan penyerahan semuanya dari provinsi. Kami hanya mengecek saja kalau bantuan itu benar-benar sampai kepada kelompok tani," ujar Dedi kepada Pos Belitung, Kamis (29/12/2016).

Penerima bantuan itu, lanjutnya, usulannya dari kabupaten yang diajukan dalam musyawarah rencana pembangunan (musrenbang). Pemprov lalu mengevaluasi pengajuan sebelum menyetujui.

Berdasarkan data DTPHP2KP 2015, tambah Dedi, luas perkebunan karet di Belitung mencapai 3.789,51 ha.

Rinciannya, Kecamatan Selat Nasik 747,31 ha, Sijuk 754,5 ha, Badau 601,7 ha, Tanjungpandan 397 ha, dan Kecamatan Membalong seluas 1.268 ha.

Pertumbuhan kebun karet di Belitung cukup baik, terutama terus bertambahnya jumlah petani di setiap kecamatan.

Akan tetapi, kendala fluktuasi harga jual masih sering terjadi, sehingga warga yang tertarik membuka lahan masih banyak pertimbangan.

Dedi memperkirakan, fluktuasi harga terjadi karena pengaruh kualitas pada karet kering yang dihasilkan petani.

"Mereka biasanya menggunakan tawas, pupuk NP-36, dan cuka. Padahal campuran itu justru mengurangi kandungan getah karet, jadi kualitasnya berkurang," katanya.

Para penyuluh, kata dia, selalu memberikan saran dan ilmu tentang cara mencampur yang sesuai teknis perkebunan.

Akan tetapi karena alasan untuk menekan biaya yang lebih murah, pola-pola yang salah tetap diterapkan.

Selain itu, tidak adanya perbedaan harga beli antara kualitas bagus dan baik dari pembeli membuat para petani mempertahankan itu.

Sumber: Pos Belitung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved