Kukus Menggale Ikan Pais Semakin Langka

Negeri Laskar Pelangi tak hanya kaya dengan keindahan alamnya, tapi juga memiliki beberapa menu sarapan tradisional yang unik.

Tayang:
Kukus Menggale Ikan Pais Semakin Langka - kukus-menggale-pais-ikan-khas-belitung_20170409_140742.jpg
Pos Belitung/Novita
Kukus menggale pais ikan khas belitung
Kukus Menggale Ikan Pais Semakin Langka - penjual-kukus-menggale_20170409_140822.jpg
Pos Belitung/Novita
Penjual kukus menggale pais ikan khas belitung

POSBELITUNG.COM - Sarapan atau melampun menjadi hal yang wajib bagi sebagian orang sebelum memulai aktivitas. Pilihan menu sarapan pun tergantung selera.

Bagi yang tak ingin sarapan berat seperti nasi, bubur ayam atau makanan lain, beberapa makanan ringan seperti kue tradisional atau roti kerap menjadi pilihan untuk mengganjal perut saat pagi hari.

Negeri Laskar Pelangi tak hanya kaya dengan keindahan alamnya, tapi juga memiliki beberapa menu sarapan tradisional yang unik.

Mulai dari makanan khas seperti kukus hingga beragam kue tradisional yang cita rasanya mengikuti perkembangan zaman, hingga kue tradisional yang tetap terjaga keasliannya.

Beberapa menu sarapan khas, saat ini memang sudah cukup sulit untuk ditemui. Tapi jangan takut, karena masih saja ada pedagang yang melestarikan makanan itu dan tetap menjaga rasanya hingga terus bisa dirasakan dari generasi ke generasi.

Satu di antaranya adalah kukus. Kukus ini terbuat dari bahan dasar tepung rap menggale (singkong).

"Udah lama nggak makan kukus begini. Enak, ditambah lagi ikan paisnya. Tapi sudah jarang orang jualan begini kalau buat sarapan," sebut seorang lelaki saat ditemui Pos Belitung sedang membeli kukus di kawasan wisata Pantai Tanjungpendam, Minggu (2/4), untuk dinikmatinya usai olahraga pagi itu.

Salah seorang pembuat dan penjual kukus adalah Adhywira. Kukus buatan Adhywira ini berbentuk kerucut, yang dijual satu paket dengan lauknya yakni ikan pais (ikan pepes) yang dipresto.

Harganya murah meriah, hanya Rp 8.000 per porsi. Anda bisa menemukan setiap hari Minggu pagi di kawasan wisata Pantai Tanjungpendam, atau di samping SPBU Jalan Gatot Subroto Tanjungpandan setiap Selasa pagi hingga Sabtu pagi.

"Lawan e kan ikan pais. Biasenye urang juak makannye kan ikan asin. Cuma ada juga beberapa request kiape mun kite buatkan rendang? Pernah dicoba. Nyaman. Jadi waktu ada pameran di Tanjungpendam tahun lalu, ada ibu yang buka stan dekat kami. Saya pesan soto babat dan makan dengan kukus. Nyaman," tutur Adhywira, Selasa (4/4).

Semula untuk membuat bentuk kerucut pada kukus, Adhywira menggunakan teko yang tinggi. Namun kemudian diganti menggunakan wadah yang terbuat dari bambu. "Kami bawa ke Tanjungpendam. Ternyata banyak yang suka," lanjutnya.

Masih ada menu lain khas Belitung untuk sarapan yang disediakan Adhywira, yakni ipok‑ipok. Sama halnya dengan kukus, ipok-ipok ini juga terbuat dari tepung rap menggale. Makanan ini biasanya jadi teman ngopi saat sarapan, apalagi disajikan saat masih panas. Bagian dalam ipok-ipok diisi sambalingkong Belitung yang rasa asin dan pedasnya menonjol.

"Ipok‑ipok  pakai tepung rap menggale. Prosesnya lama dan bahan baku. Dak banyak orang buat karena bahan bakunya susah. Tapi ini memang khas," kata Adhywira yang telah setahun ini berjualan makanan khas Belitung untuk sarapan.

Masih ada lagi loh kue tradisional Belitung yang bisa dijadikan menu sararapan, yakni keroket menggale. Yup, keroket mungkin bisa ditemui dimana saja. Tapi keroket menggale yang dijual Adhywira memiliki cita rasa tersendiri. Meski sudah mengalami modifikasi mulai dari isiannya hingga tampilannya, keroket menggale tetap enak dan digemari masyarakat.

Adhywira mengatakan khusus keroket menggale, dirinya memodifikasi keroket buatannya dengan mengubah isi keroket yang biasanya bihun, menjadi ayam atau daging sapi dan dilumuri tepung panir. Hal ini bertujuan untuk menyesuaikan rasa dan permintaan konsumen

Sumber: Pos Belitung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved