Kukus Menggale Ikan Pais Semakin Langka
Negeri Laskar Pelangi tak hanya kaya dengan keindahan alamnya, tapi juga memiliki beberapa menu sarapan tradisional yang unik.
"Waktu zaman kami kecil keroket ini sudah ada dan menjadi jajanan paling nyaman. Tapi ini kan persoalan cita rasanya. Ini yang kita buat jadi berbeda dan menyesuaikan, misalnya dari isinya kalau dulu bihun sekarang kita ganti dengan ayam dan daging. Kemudian dilumuri tepung panir," sebutnya.
Adhywira juga menyediakan bubor jawak untuk sarapan yang mungkin saat ini agak sulit ditemui. Bubor jawak ini bercita rasa manis.
"Jawak sudah jarang. Harga per kilonya hampir 20 kali harga beras. Ini karena memang karena kelangkaan. Tetap hukum ekonomi berlaku, supply and demand berlaku. Jadi karena kelangkaan, dan juga karena memang pekerjaannya memang sulit. Karena yang mereka buat yang siap pakai. Dan itu mereka tumbuk dan memang numbuknya tidak mudah," jelas Adhywira.
Khas Belitung
Melalui menu-menu yang disediakan tersebut (kukus, ipok-ipok, bubor jawak dan keroket menggale), Adhywira ingin mengangkat kuliner khas Belitung khususnya untuk melampun. "Benar‑benar idang melampun khas urang Belitong," ucapnya.
Mengusung tagline Menu Kampong, Rasa Kute, Adhywira berniat untuk mengembangkan makanan khas Belitung sebagai penopang pariwisata Belitung yang kian menggeliat. Dia mengatakan wisata Belitung sudah mulai ramai dan pasti wisatawan pun ingin mencari kuliner yang khas. Oleh sebab itu dirinya menawarkan menu-menu khas dan melestarikannya agar makanan ini tetap ada.
Tak hanya kukus, ipok-ipok, bubor jawak, dan keroket menggele, masih ada kue-kue tradisional juga bisa menjadi pilihan menu sarapan. Seperti kue apam, kue lumpang, putu, talam udang, talam menggale, talam beras dan ulen‑ulen. Salah satu pembuat kue tradisional, Zainar Jayadi megatakan dirinya mewarisi resep almarhum ibunda Hj Zubaidah (dikenal dengan sapaan Haji Zubai) membuat kue tradisional sejak 1958.
Zainar membuat berbagai olahan kue tradisional dengan bahan baku tepung beras. Ia berjualan kue tradisional sejak puluhan tahun silam di halaman rumahnya.
"Dulu apam itu khususnya pagi, dan kue apam itu identik dengan kue pagi. Cuma saya mencoba menggebrak jualan kue ini sampai malam, dan banyak peminatnya," katanya saat ditemui Pos Belitung, Kamis (6/4).
Ia mengatakan kebiasaan orang Belitung menyukai makanan manis dan gurih. Oleh karena itu makanan tradisional seperti kue‑kue yang dibuatnya itu masih terus diminati orang.
"Kue‑kue itu dibuat dari tepung beras, dan ini membuat kenyang. Tapi sekarang itu gak hanya sarapan saja tapi juga sampai malam saya jualnya masih banyak peminatnya," kata Zainar.
Tekstur kue buatan Zainar berbeda dengan kue umumnya, khususnya kue apamnya dengan bentuk yang berongga dan warnanya pekat membuat kue ini tradisional ini tak lekang oleh waktu. Nah, penasaran dengan berbagai cita rasa menu sarapan khas Belitung? Silahkan mencoba. (Krisyanidayati/Novita/Pos Belitung)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/kukus-menggale-pais-ikan-khas-belitung_20170409_140742.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/penjual-kukus-menggale_20170409_140822.jpg)