Gadis-gadis Muda Rohingya Dipaksa Menikah Demi Dapatkan Ini

Pernikahan dianggap menciptakan keluarga baru dan dapat menjamin kehidupan mereka pasca

The Guardian
Seorang Remaja Rohingya (15) terpaksa menjada dengan 1 anak setelah suami yang ia nikahi menghilang dari pengungsian. 

POSBELITUNG.COM - Gadis-gadis muda Rohingya yang berumur sekitar 12 tahun terpaksa menikah hanya untuk mendapatkan makanan.

Diberitakan The Guardian, Kamis (30/11/2017), hal tersebut dilakukan oleh mereka, lantaran alokasi jatah makanan untuk pengungsi sangat sedikit.

Sesampainya di Bangladesh, mereka dipaksa menikah untuk mendapatkan makanan, bagi dirinya sendiri dan keluarga mereka.

Pernikahan dianggap menciptakan keluarga baru dan dapat menjamin kehidupan mereka pasca mengungsi dari Myanmar.

Petugas medis di Bangladesh mengatakan bahwa gadis-gadis muda menjadi sasaran kekerasan seksual di negara bagian Rakhine di Myanmar.

Tapi di camp Cox's Bazar, mereka terus menghadapi kekerasan dalam bentuk pernikahan dini, yang menyebabkan kerusakan fisik dan psikologis.


Remaja Rohingya 14 tahun yang terpaksa menikah setiba di camp pengungsian di Bangladesh.
Remaja Rohingya 14 tahun yang terpaksa menikah setiba di camp pengungsian di Bangladesh. (The Guardian)

"Saya tidak dewasa saat saya menikah," kata Anwara, yang melarikan diri dari Rakhine setelah militer membakar rumahnya.

Pada usia 14 tahun, dia menikah dalam beberapa minggu setelah tiba di Bangladesh dan baru saja melahirkan bayi pertamanya.

"Saya tidak mengerti apa yang telah terjadi, dan menjadi lemah dan tidak makan apapun. Saya tidak memberi tahu siapa pun dan tidak ada yang tahu bahwa saya mengandung. Anak perempuan tidak menjadi pintar sampai empat atau lima tahun setelah mereka mendapatkan menstruasi mereka. Saat itulah kita menjadi kuat dan mengerti hal-hal dalam hidup dan memiliki kesempatan untuk tumbuh tinggi dan cantik. Saya berharap bisa menghabiskan beberapa waktu tanpa suami dan bayi. Lalu hidup pasti indah," ungkapnya.

Orang tua dari remaja-remaja tersebut aktif mencarikan suami untuk mereka setiba di Bangladesh.

Alasannya adalah makanan yang tidak cukup, alokasi 25 Kg beras setiap dua minggu untuk satu keluarga, yang rata-rata lebih dari lima orang.

Marium (14) tiba di Bangladesh pada bulan September.

Dia menikah tiga minggu kemudian.

"Semuanya terbakar di desa. Saat kami berlari keluar orang-orang di depan semuanya tertembak. Saya tidak punya ayah dan saya sangat membebani ibu jadi lebih baik saya menikah. Tentu saja jika ibu saya memiliki kemampuan untuk memberi makan saya, saya akan senang untuk tetap lajang," kata Marium.

Muhammad Hassen baru saja mengatur pernikahan putrinya yang berusia 14 tahun, Arafa.

Sumber: TribunWow.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved