Ini Cerita Awal Mula Fanatisme dan Rivalitas antara Persib vs Persija Terbentuk

Berdasarkan penelusuran Warta Kota dari berbagai sumber, permusuhan antara Jakmania dan suporter Persib

Tayang:
Editor: Evan Saputra
Tribun Wow
Kolase The Jak dan Persib 

Mereka memiliki kelompok pendukung bernama the Commandos yang identik dengan anak-anak kaya, cewek-cewek cantik, yang tentu saja jumlahnya sangat-sangat sedikit, bahkan stadion mini mereka yaitu stadion Lebak Bulus pun tak pernah penuh jika Pelita Jaya bermain.

Kembali ke Persija, diawal era liga Indonesia (sekitar tahun 1994-1995), Persija dapat dikatakan tim yang tak diperhitungkan, minim dana, pemain-pemain gurem, stadion Menteng yang kurang perawatan dan selalu sepi.

Satu hal yang perlu diingat bahwa warna tim Persija adalah merah bukan oranye seperti sekarang.

Semua berubah sekitar tahun 1997, adalah seorang Gugun Gondrong sebagai pelaku utamanya.

Dalam sebuah memoar yang saya ingat dia pernah mengatakan cukup gerah dengan ke Jakartaan kota Jakarta yang semakin tersingkir oleh pendatang, salah satu parameternya dari kehadiran penonton sepakbola saat Persija bermain.

Jika Persija menjamu PSMS, yang memenuhi Stadion Menteng pastilah orang batak. Jika menjamu PSIS atau Persebaya pastilah orang Jawa yang mendominasi, begitupun saat meladeni PERSIB, pastilah urang sunda yang menyesaki Menteng.

Gugun mulai menyentuh sisi emosional orang-orang yang sehari-hari hidup di Jakarta bahwa saatnya menanggalkan klub daerah masing-masing dan mendukung tim di mana mereka beraktivitas yaitu Persija.

Dan tentu saja bukanlah hal mudah untuk menyentuh sisi emosional ini, apalagi memaksa seseorang untuk mendukung salah satu tim sepakbola.

Hal ini perlu dirangsang dan disambut oleh Sutiyoso yang membutuhkan “kelompok sayap” untuk menopang kekuatan politisnya.

2 yang paling menonjol menurut saya adalah upaya Sutiyoso untuk menggandeng Jakmania dan FBR, saya tak taulah tentang FBR, namun untuk Jakmania saya tahu bahwa mereka dirangsang dengan tiket-tiket gratis bahkan disediakan hingga tingkat kelurahan.

Upaya rekayasa membangun fanatisme ini diupayakan juga dengan angkutan-angkutan umum gratis seperti metromini yang menjemput dan mengangkut mereka ke stadion.

Sungguh berbeda dengan fanatisme alami ala bobotoh yang harus mencari setengah mati tiket-tiket berharga mahal dan susah payah mencapai lokasi pertandingan.

Pasca sentuhan Sutiyoso inilah Persija dan suporternya bertransformasi memasuki era baru yang membuat mereka diperhitungkan.

Berbicara mengenai pembangunan suporter, Jakmania pun tentunya memerlukan rujukan dan konon kota Bandunglah yang mereka jadikan rujukan,

Maka tak perlu heran jika pengurus-pengurus Jakmania pada awalnya justru sering berkunjung ke bilangan gurame di kota Bandung untuk “belajar”, tepatnya di markas salah satu kelompok bobotoh yaitu Viking.

Sumber: Warta Kota
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved