Eks Kepala BAIS Buka Suara Soal Kasus Ratna Sarumpaet, Lalu Ucapkan Hal Ini

"Yang jelas tentu kita evaluasi bagi kami semua, untuk memastikan tim ini bersih dari mereka-mereka yang mau merusak Prabowo-Sandiaga..."

Tayang:
TRIBUNNEWS.COM/TWITTER
Kolase foto Eks Kepala BAIS TNI, Soleman B Ponto, dan Ratna Sarumpaet. 

"Nah, pernyataan-pernyataan itu kan mahfum disampaikan oleh oposisi," timpal Aiman.

"Tapi ia menyatakan ini dengan (seolah) merasakan suatu hal yang benar dan dipublikasikan," tandas Soleman.

Baca: Terlibat Kecelakaan Bersama Pria Beristri, Nama Rini Puspitawati Jadi Trending di Google

Baca: Begini Kata Luhut Soal Meikarta, Dulu Bilang Perizinan dan Kepemilikan Tanah Aman, Sekarang ?

"Apa bedanya dengan Ratna? Dia merasa berita ini benar kan?" lanjut Soleman.

"Tapi bedanya Ratna punya konsekuensi hukum. Ini kan bicara soal politik," kata Aiman.

"Sama, ini juga bisa berkonsekuensi hukum (jika terjadi penuntutan). Fakta yang disampaikan tidak valid. Di intelijen ini tidak bisa dipakai," tegas Soleman.

Mendengar pemaparan Soleman itu, Aiman kemudian menanyakan jika kasus Ratna Sarumpaet itu berarti tak ada sangkut pautnya dengan kegiatan intelijen?

"Tidak. Karena di situ langsung dipakai Pak Prabowo sebagai fakta bagi dia," ungkap Soleman.

Terkait kasus Ratna Sarumpaet ini, lebih lanjut Soleman mengungkapkan jika pasti berpengaruh terhadap elektabilitas Prabowo Subianto.

Baca: Najwa Blak-blakan Kisahkan Perjalanan Cintanya Bersama Suami, Ternyata Berawal dari Senior & Junior

Baca: Fahri Hamzah Sebut Kebohongan Kini Menjadi Sebuah Wabah

"Pasti terpengaruh. Kalau intelijen, fakta yang dipakai itu mutlak," ucapnya.

Menurut Solemen, sudah menjadi risiko bagi Prabowo cs jika harus menjalani pemeriksaan oleh kepolisian karena masuk dalam pusaran kasus kebohongan Ratna Sarumpaet ini.

Dan sekali lagi ia menegaskan pendapatnya, menurut dia tak ada skenario intelijen di kasus Ratna Sarumpaet.

Ia pun menjelaskan sosok yang biasa dijadikan target sebagai kuda Troya untuk disusupkan ke jantung pertahanan lawan dalam operasi intelijen.

"Itu harus orang yang terdekat, yang didengar dan tiap hari bertemu," ujar Soleman.

Seleman juga menyangsikan jika strategi seperti operasi intelijen ini dipakai masing-masing kubu untuk memenangkan Pilpres 2019.

Baca: Pria Ini Ceraikan Sang Istri Usai Melihat Fotonya di Google Maps, Ini Potret dan Penjelasannya

Baca: Tak Hanya Datangi Rumah Suzanna, Luna Maya Ternyata ke Tempat Semedinya, Begini Potretnya

Sebab, menurut dia operasi semacam ini butuh harga mahal untuk agenda sekelas pemilu.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved