Erzaldi Harus Tunggu 4 Bulan untuk Bisa Belajar Lada ke Vietnam
Gubernur Bangka Belitung, Erzaldi Rosman meminta petani Babel untuk tidak mudah berbagi ilmu dengan petani dari luar negeri.
POSBELITUNG.CO--Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman meminta petani Babel untuk tidak mudah berbagi ilmu dengan petani dari luar negeri.
Ia menceritakan dulu, Vietnam belajar dengan Indonesia tentang menanam lada, saat ini produksi lada Vietnam jauh lebih besar dari Indonesia.
"Ketika Vietnam lepas dari perang mereka haus dengan usaha, apapun komoditi yang dibutuhkan dunia mereka pelajari. Indonesia sebagai bangsa yang sopan dan santun diajarkan saja cara menanam lada, dikasih tau semua karena tidak mau keliatan bodoh. Ternyata, sekarang Vietnam lebih maju dari kita produksinya 2,5-3 ton/hektar per tahun produksi mereka 300 ribu ton," katanya dalam peringatan hari lada di Gale-Gale Restoran, Kamis (22/11).
Mantan Bupati Bangka Tengah itu menceritakan, dirinya pernah ingin belajar lada ke Vietnam, untuk perizinan saja membutuhkan waktu selama empat bulan.
"Ketika kita mau belajar, saya belajar ke Vietnam izinnya saja 4 bulan, itu hanya boleh kebun tertentu, ketika saya tanya ini gimana bisa tumbuh subur, mereka bilang hanya ini ditanam, dirawat lalu tumbuh, enggak bilang detail mereka," katanya.
Kendati demikian, Erzaldi mengatakan kualitas lada Babel belum bisa tertandingi dengan tingkat kepedasan yang mencapai 7 persen. Namun, hal ini tidak boleh membuat lengah.
Ia berharap, kedepannya lada ini menjadi perhatian serius dari semua pihak, tidak hanya pemerintah provinsi tapi juga pemerintah pusat.
Ia meminta, petani tidak hanya terpaku pada harga, pasalnya harga ini ditentukan oleh pasar, namun hal yang perlu dilakukan ialah meningkatkan produktivitas lada.
"Permasalahan lada kita hanya berpikir masalah harga, bukan harga tidak menjadi perhatian, tapi karena ini diputuskan pasar, dari harga petani kita enggak nafsu nanam lada," ujarnya.
Erzaldi mengatakan lada bukan hanya soal ekonomi saja, namun juga sudah menjadi budaya masyarakat.
"Lada di Babel sudah memiliki kelebihan karena spesial, tapi saking spesial kita mengambil langkah yang keliru yang akhirnya merugikan kita sekarang. Dulu lada di Babel penghasil utama masyarakat, tidak hanya soal ekonomi masyarakat tapi juga sudah budaya dan kebiasaan untuk menanam lada karena senang," katanya.
Menurutnya, pemerintah pusat juga kurang serius dalam penanganan komoditas lada. Padahal Pemprov Babel terus berupaya untuk mengembalikan kejayaan lada.
"Dalam IPC betapa lada bekum menjadi perhatian pemerintah pusat dan itu wajar, saya bukan protes tapi kasih tau karena kuatir kebijakan pusat tidak berefek pada kebijakan provinsi. India yang datang menteri, Malayasia yanf datang menteri, Laos dan Vietnam yang datang Deputi Menteri, Indonesia yang datang eselon III," katanya.
"Data disampaikan keliru dengan bangga produksi lada 80 ribu ton darinana 80 ribu ton pertahun, Babel hanya 12 ribu ton paling maksimal, kita enggak sadar barang enggak ada disebut ada ini mempengaruhi pasar dan harga terjun payung," tambahnya.
Dalam peringatan hari lada ini, Erzaldi berharap menghasilkan rumusan kebijakan untuk kemajuan lada di Indonesia, termasuk aturan yang nantinya khusus ekspor lada hanya bisa dilakukan melalui pelabuhan Pangkalbalam.
"Kalau perlu ekspor hanya melalui pelabuhan Pangkalbalam, karena lada Babel ini enggak bisa ditiru, kalau melalui Jakarta, Surabaya, identitas geografi tidak perlu, lada bisa dicampur dengan lada sulawesi, Kalimantan, kepedasan bisa naik karena dicampur, tetapi dimana-mana selalu muncul lada Bangka, padahal sudah dicampur," katanya.
Untuk mengembalikan kejayaan lada, Erzaldi menegaskan harus dilakukan beberapa upaya, diantaranya adalah menekan biaya produksi lada, dimana saat ini biaya produksi lada masih terlalu tinggi.
"Pemerintah harus membantu, kemudian juga masalah bibit, harus bibit berkualitas yang dari satu sumber, serta memperbaiki cara tanam," ujarnya.
Upaya lainnya, adalah sistem resi gudang (SRG) yang diharapkan bisa membantu petani untuk mendapatkan harga yang ideal.
Ia mengkui, SRG belum berjalan maksimal, lantaran petani masih enggan menitipkan ladanya di SRG tetapi lebih percaya kepada eksportir. (o2)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/para-petani-belitung-sedang-tertawa-di-sela-sela-kegiatan-memanen-lada-di-kebun-mereka_20181107_204007.jpg)